HOME  ⁄  Geopolitik

Abbas Araghchi Akui Ada Ranjau di Selat Hormuz, Kapal Asing Wajib Berkoordinasi dengan Militer Iran

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Abbas Araghchi Akui Ada Ranjau di Selat Hormuz, Kapal Asing Wajib Berkoordinasi dengan Militer Iran
Foto: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (sumber: Ahmet Serdar Eser/Anadolu)

Pantau - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengakui adanya ranjau dan berbagai rintangan di Selat Hormuz yang membuat kapal-kapal asing wajib berkoordinasi dengan militer Iran saat melintas di jalur strategis tersebut.

Iran Klaim Pastikan Keamanan Navigasi

Araghchi menyatakan koordinasi dilakukan untuk menjamin keamanan pelayaran di tengah situasi yang masih rawan di kawasan Teluk.

Ia mengungkapkan, “Keberadaan ranjau dan rintangan di kawasan tersebut mengharuskan kapal-kapal yang melintas untuk berkoordinasi dengan militer Iran.”

Menurut Araghchi, Iran akan membimbing kapal-kapal yang melintas agar navigasi tetap aman dan terkendali.

Ia mengatakan Iran sebelumnya juga telah memberikan pengawalan terhadap sejumlah kapal asal India yang melintasi Selat Hormuz.

Araghchi menegaskan bahwa keamanan navigasi tetap menjadi kebijakan resmi pemerintah Iran di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Puluhan Kapal Mulai Melintasi Selat Hormuz

Sebelumnya dilaporkan sebanyak 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz sejak Rabu malam, 13 Mei 2026.

Kapal-kapal tersebut melintas di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Data dari platform pelacakan kapal Marine Traffic menunjukkan sedikitnya empat kapal yang terkait dengan China telah melewati selat tersebut dalam 24 jam terakhir.

Kapal-kapal itu diketahui menggunakan koridor pelayaran aman yang disediakan oleh Iran.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling penting di dunia karena menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas internasional.

Jalur pelayaran tersebut praktis tertutup bagi sebagian besar kapal sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.

Penutupan jalur itu memicu gangguan terhadap arus pengiriman energi dan kargo global.

Gencatan Senjata Belum Hasilkan Kesepakatan Permanen

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku pada 8 April 2026 setelah dimediasi oleh Pakistan.

Namun, perundingan yang berlangsung di Islamabad dilaporkan gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang antara kedua negara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa menetapkan batas waktu baru.

Penulis :
Arian Mesa