
Pantau - Pemerintah Australia menyetujui pembelian lebih dari 600.000 barel bahan bakar jet dari China dan 38.500 ton urea pertanian dari Brunei di tengah gangguan pasokan global akibat konflik Iran di kawasan Timur Tengah.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan pengiriman bahan bakar jet tersebut akan dimulai pada awal Juni 2026 setelah tercapainya kesepakatan antara Canberra dan Beijing.
Albanese mengungkapkan pembicaraan terkait pasokan energi itu juga melibatkan dirinya secara langsung dengan Perdana Menteri China Li Qiang.
"Setelah diskusi antara Australia dan China, termasuk antara Perdana Menteri dan Perdana Menteri China Li, Pemerintah Partai Buruh Albanese telah membantu mengamankan tiga pengiriman bahan bakar jet dengan total lebih dari 600.000 barel atau sekitar 100 juta liter," ungkap Albanese.
Pemerintah Australia memperkirakan tambahan bahan bakar jet tersebut setara dengan sekitar 1 persen dari total konsumsi tahunan nasional.
Australia Bentuk Fasilitas Keamanan Bahan Bakar dan Pupuk
Canberra juga mengamankan pasokan urea pertanian dari Brunei guna menjaga kebutuhan pupuk bagi para petani di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Pasokan bahan bakar dan pupuk tersebut diamankan melalui fasilitas baru bernama Fuel and Fertiliser Security Facility.
Pemerintah Australia menyiapkan nilai fasilitas sebesar 7,5 miliar dolar Australia atau sekitar Rp94,8 triliun untuk mendukung ketahanan energi dan sektor pertanian.
Fasilitas itu menyediakan pinjaman, jaminan, asuransi, serta dukungan harga bagi sektor transportasi dan pertanian.
Pemerintah Australia Upayakan Stabilitas Pasokan Energi
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan pemerintah bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk mengurangi dampak krisis terhadap perekonomian global.
Penny Wong menegaskan pemerintah Australia terus berupaya memastikan pasokan bahan bakar tetap aman dan tidak mengalami gangguan di tengah ketegangan geopolitik internasional.
- Penulis :
- Shila Glorya





