
Pantau - Sebanyak 76 persen alat pencitraan medis di rumah sakit yang masih beroperasi di Jalur Gaza dilaporkan rusak akibat konflik berkepanjangan sehingga mengancam keselamatan ribuan pasien dan korban luka.
Direktur Unit Pencitraan Medis otoritas kesehatan Gaza, Ibrahim Abbas, mengatakan layanan pencitraan medis di wilayah tersebut kini menghadapi kondisi kritis.
“Layanan pencitraan di rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza menghadapi tantangan serius dan kritis,” ungkap Abbas dalam pernyataannya pada Selasa (19/5).
Abbas menjelaskan sebagian besar alat kesehatan tidak lagi dapat digunakan, sementara perangkat yang masih tersisa merupakan alat lama dengan kondisi teknis yang sulit dioperasikan.
Mesin MRI dan CT Scan Banyak Tidak Berfungsi
Seluruh layanan MRI di Gaza disebut telah berhenti total setelah sembilan mesin MRI hancur akibat konflik yang masih berlangsung.
Selain itu, hanya lima dari total 18 mesin CT Scan yang masih dapat digunakan untuk melayani pasien di wilayah tersebut.
Dari 88 mesin sinar-X yang tersedia sebelum konflik, kini hanya 33 unit yang masih berfungsi.
Sementara itu, hanya lima dari 16 perangkat pencitraan fluoresensi untuk prosedur bedah kompleks yang masih dapat dioperasikan.
Pembatasan Suku Cadang Hambat Perbaikan
Abbas mengatakan proses pemeliharaan rutin alat kesehatan hampir sepenuhnya terhenti karena pembatasan masuknya suku cadang yang dibutuhkan untuk perbaikan.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat layanan pencitraan medis di Gaza berisiko mengalami kolaps total sewaktu-waktu.
“Gangguan yang terus berlanjut terhadap layanan pencitraan medis menghambat tindakan medis penyelamatan nyawa dan berpotensi kian memperburuk kondisi kesehatan ribuan orang yang terluka dan sakit di Gaza,” ujar Abbas.
Krisis fasilitas kesehatan di Gaza terus memburuk di tengah konflik yang masih berlangsung dan meningkatnya jumlah korban luka yang membutuhkan penanganan medis darurat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





