
Pantau - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut konsumsi minyak dunia mulai menurun di tengah krisis yang melanda kawasan Timur Tengah dan blokade de facto di Selat Hormuz.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan penurunan permintaan minyak global akan semakin terasa apabila harga energi terus melonjak dalam beberapa waktu ke depan.
“Kami melihat permintaan minyak global sudah mulai menurun. Jika harga melonjak lebih tinggi lagi, penurunan ini akan semakin terlihat jelas,” kata Birol dalam acara yang diselenggarakan Chatham House, Kamis (21/5/2026).
Birol mengingatkan situasi pasar energi global berpotensi semakin sulit memasuki musim panas apabila Selat Hormuz belum kembali dibuka sepenuhnya.
Selat Hormuz Disebut Jadi Kunci Pasokan Energi Dunia
IEA menilai Selat Hormuz memiliki peran vital sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global.
Birol menjelaskan permintaan energi biasanya meningkat tajam pada akhir Juni hingga awal Juli seiring dimulainya musim liburan di berbagai negara.
“Masalahnya, pada akhir Juni hingga awal Juli, musim liburan dimulai. Apa artinya? Biasanya, permintaan dan konsumsi minyak akan melonjak,” ungkapnya.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat memicu penipisan stok minyak dunia karena pasokan dari Timur Tengah terganggu.
“Situasi ini bisa menjadi sulit dan kita mungkin akan memasuki Zona Merah,” ujar Birol.
IEA mencatat pasar global saat ini kehilangan sekitar 14 juta barel minyak per hari akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Selain minyak, pasokan gas dunia juga disebut mengalami gangguan hingga lebih dari 130 miliar meter kubik.
Krisis Energi Dinilai Lebih Parah dari Guncangan 1970-an
Birol menilai krisis energi saat ini lebih besar dibanding gabungan seluruh krisis energi yang pernah terjadi sebelumnya.
Ia membandingkan kondisi sekarang dengan krisis minyak pada era 1970-an yang saat itu hanya mengganggu pasokan sekitar 10 juta barel per hari.
Negara-negara anggota IEA diketahui telah melepaskan cadangan darurat minyak ke pasar untuk meredam gejolak harga energi global.
Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menstabilkan situasi apabila jalur distribusi energi di Selat Hormuz tetap terganggu.
“Satu-satunya solusi paling penting untuk masalah ini adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat,” kata Birol.
Krisis di kawasan tersebut dipicu eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak langsung terhadap distribusi minyak dunia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





