
Pantau - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia menjelaskan pengembangan cadangan gas di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, yang dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam menyampaikan penjelasan tersebut dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta.
Potensi Produksi Sumur Geliga dan Gula
Rizwi menjelaskan temuan gas besar di Cekungan Kutai berasal dari Sumur Geliga 1 dan Sumur Gula.
Sumur Geliga 1 diperkirakan memiliki cadangan sebesar 5 trillion cubic feet atau TCF gas serta 300 juta barrel oil equivalent kondensat.
Sementara cadangan Sumur Gula diperkirakan mencapai 2 TCF gas dan 75 juta barrel oil equivalent kondensat.
Menurut Rizwi, total potensi produksi dari kedua sumur tersebut mencapai 7 TCF gas dan 375 juta barrel oil equivalent kondensat.
“Dengan demikian, total produksi potensinya adalah 7 TCF gas dan 375 juta barrel oil equivalent kondensat,” ungkap Rizwi.
Pengembangan gabungan Sumur Geliga dan Gula diperkirakan mampu menghasilkan 1.000 MMSFCD gas dan 80.000 BOEPD kondensat.
Proyek Strategis Hulu Migas Terus Dikembangkan
Selain proyek di Cekungan Kutai, Kementerian ESDM juga menyampaikan sejumlah proyek strategis nasional sektor hulu migas yang sedang dikembangkan.
Proyek strategis tersebut meliputi South Andaman, Asap Kido Merah, Tangguh UCC Project, Abadi Project, dan Indonesia Deepwater Development.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan temuan gas bumi di Sumur Geliga-1 Blok Ganal yang berada di lepas pantai Kalimantan Timur.
Potensi cadangan di Sumur Geliga-1 mencapai sekitar 5 TCF gas dan 300 juta barel kondensat.
“Di era kondisi dunia yang hampir semua dunia sekarang menjaga cadangan mereka, sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan dan kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” kata Bahlil.
Temuan tersebut berada di Wilayah Kerja Ganal yang dioperasikan oleh ENI dengan kepemilikan 82 persen.
Sementara 18 persen kepemilikan lainnya dimiliki oleh Sinopec.
Menurut Bahlil, eksplorasi yang dilakukan ENI menunjukkan potensi migas Indonesia masih sangat besar.
Cekungan Kutai di Kalimantan Timur disebut terus menunjukkan prospek migas yang menjanjikan.
- Penulis :
- Shila Glorya





