HOME  ⁄  Geopolitik

AS dan Iran Sepakati Pembukaan Penuh Selat Hormuz dalam 30 Hari

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

AS dan Iran Sepakati Pembukaan Penuh Selat Hormuz dalam 30 Hari
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Amerika Serikat (AS) dan Iran. /ANTARA/Anadolu/pri..)

Pantau - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan awal untuk membuka sepenuhnya Selat Hormuz dalam waktu 30 hari ke depan sebagai bagian dari upaya perdamaian kedua negara.

Kesepakatan Awal Perpanjang Gencatan Senjata

Laporan Washington Post yang mengutip diplomat anonim menyebut kesepakatan tersebut juga mencakup penundaan pembicaraan nuklir hingga waktu yang belum ditentukan.

Kerangka kesepakatan awal antara Washington dan Teheran disebut masih menunggu persetujuan resmi dari pihak Iran.

Selain itu, kedua negara dilaporkan sepakat memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari guna mencapai penyelesaian akhir konflik.

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan dan korban sipil yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Pada 7 April, kedua negara mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan sebelum perundingan lanjutan digelar di Islamabad.

Namun, perundingan tersebut berakhir tanpa hasil sehingga Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang penghentian permusuhan untuk memberi waktu Iran menyusun “proposal terpadu”.

Selat Hormuz Jadi Jalur Vital Distribusi Minyak Dunia

Peningkatan ketegangan di sekitar wilayah Iran sebelumnya memicu blokade de facto di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global.

Gangguan distribusi tersebut berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan Timur Tengah.

Akibat hambatan pengiriman energi itu, sejumlah negara mengalami kenaikan harga bahan bakar dan produk industri.

Kesepakatan pembukaan penuh Selat Hormuz dinilai menjadi langkah penting untuk memulihkan stabilitas distribusi energi dunia di tengah ketidakpastian geopolitik kawasan.

Penulis :
Ahmad Yusuf