HOME  ⁄  Geopolitik

Marco Rubio Sebut AS Siap Berunding dengan Iran Jika Selat Hormuz Dibuka Kembali

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Marco Rubio Sebut AS Siap Berunding dengan Iran Jika Selat Hormuz Dibuka Kembali
Foto: Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menemui pers saat pertemuan para menteri luar negeri Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) di markas NATO di Brussels, Belgi, Kamis 3/4/2025 (sumber: Xinhua/Zhao Dingzhe)

Pantau - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan Washington siap memulai pembicaraan serius terkait program nuklir Iran apabila Teheran membuka kembali Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan mengenai isu pengayaan uranium dan ancaman militer antara kedua negara.

Pernyataan tersebut dilaporkan oleh The New York Times dan dinilai mengindikasikan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump kemungkinan akan menempuh pendekatan bertahap dalam negosiasi nuklir dengan Iran.

Rubio Isyaratkan Kesepakatan Bertahap

Rubio menyebut penyelesaian isu nuklir Iran tidak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan proses teknis yang kompleks.

"Anda tidak bisa menyelesaikan masalah nuklir dengan instan dalam 72 jam," ungkap Rubio saat wawancara singkat dalam kunjungannya ke New Delhi.

Ia juga menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi syarat awal sebelum pembicaraan resmi dimulai.

"Selat Hormuz harus segera dibuka kembali, dan kemudian kita akan memulai pembicaraan yang sangat serius, di bawah parameter yang telah disepakati, mengenai pengayaan uranium, uranium yang sangat diperkaya, dan janji mereka untuk tidak pernah memiliki senjata nuklir," kata Rubio.

Menurut Rubio, pendekatan tersebut memungkinkan tercapainya kesepakatan sementara tanpa harus langsung menyelesaikan seluruh persoalan program nuklir Iran secara menyeluruh.

AS Buka Opsi Tekanan Militer

Rubio mengatakan proses negosiasi tidak akan berlangsung selama bertahun-tahun, namun tetap memerlukan waktu untuk menyelesaikan berbagai persoalan teknis.

"Negosiasi ini tidak akan memakan waktu bertahun-tahun, tetapi akan membutuhkan waktu untuk menyelesaikan masalah-masalah teknis tersebut," ujarnya.

Ia juga mengisyaratkan Amerika Serikat masih membuka opsi tekanan militer apabila negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan dalam waktu dua bulan.

"Pada akhirnya, pendekatan ini harus memberikan hasil seperti yang kita inginkan," kata Rubio.

"Jika tidak, maka presiden memiliki semua opsi yang tersedia baginya dalam 60 hari ke depan, seperti opsi yang tersedia saat ini," lanjutnya.

Hingga kini, baik pemerintah Amerika Serikat maupun Iran belum merilis rincian resmi mengenai format maupun isi pembicaraan yang akan dilakukan.

Sejumlah pengkritik menilai skema kesepakatan bertahap berpotensi mengurangi posisi tawar Presiden Donald Trump dalam negosiasi lanjutan dengan Iran.

Penulis :
Arian Mesa