HOME  ⁄  Geopolitik

China Menyambut Positif Kesepakatan Awal AS-Iran untuk Membuka Selat Hormuz

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

China Menyambut Positif Kesepakatan Awal AS-Iran untuk Membuka Selat Hormuz
Foto: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning (sumber: ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Pantau - China menyambut positif kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah serta membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat perang sejak Februari 2026.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan gencatan senjata dan upaya penyelesaian konflik melalui negosiasi mendapat dukungan luas dari negara-negara kawasan maupun komunitas internasional.

Mao Ning mengatakan, "Gencatan senjata antara AS dan Iran yang baru-baru ini terjadi, serta upaya untuk menyelesaikan masalah melalui negosiasi, disambut baik oleh negara-negara di kawasan tersebut maupun oleh komunitas internasional. China senantiasa meyakini bahwa dialog dan negosiasi merupakan jalan yang tepat untuk ditempuh sedangkan penggunaan kekuatan militer hanyalah jalan buntu."

Menurut laporan Washington Post yang mengutip seorang diplomat, AS dan Iran disebut telah menyepakati pembukaan penuh Selat Hormuz dalam waktu 30 hari ke depan sebagai bagian dari kesepakatan awal.

Kesepakatan tersebut juga mencakup penundaan pembicaraan nuklir hingga waktu mendatang.

Namun, kerangka kesepakatan awal itu disebut masih belum mendapat persetujuan resmi dari pihak Iran.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan telah ada kemajuan dalam penyusunan kerangka kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan.

Marco Rubio mengatakan AS bersama mitra di kawasan Teluk telah membuat kemajuan diplomatik dalam 48 jam terakhir terkait kerangka kesepakatan tersebut.

China Dorong Penyelesaian Politik

Mao Ning menegaskan pentingnya menjaga momentum peredaan situasi dan terus mengedepankan penyelesaian politik melalui dialog dan konsultasi.

Mao Ning mengatakan, "Sangatlah penting untuk menjaga momentum peredaan situasi ini, tetap berpegang pada arah penyelesaian politik, senantiasa menjalin dialog dan konsultasi, serta mencapai penyelesaian yang mampu mengakomodasi kepentingan dan kekhawatiran semua pihak."

China juga menilai pembukaan kembali jalur pelayaran internasional perlu dilakukan secepat mungkin demi menjaga stabilitas dan kelancaran rantai pasok global.

Mao Ning mengatakan, "Selain itu, tidak kalah penting untuk mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan langgeng sesegera mungkin, demi memulihkan kembali perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah dan Teluk dalam waktu yang sesingkat-singkatnya."

Sejak konflik dimulai, China mengaku terus berupaya mendukung terciptanya perdamaian dan penghentian konflik di kawasan.

Presiden China Xi Jinping disebut telah mengajukan empat usulan untuk menjaga dan memajukan perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah.

Mao Ning mengatakan China akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendukung perundingan damai dan mewujudkan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah.

Diplomasi Intensif AS, Iran, dan Pakistan

Perkembangan positif kesepakatan AS-Iran terjadi tidak lama setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pada 13-15 Mei 2026.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga sedang melakukan kunjungan resmi ke China.

Pakistan disebut memainkan peran penting dalam upaya perundingan AS-Iran dengan menjadi tuan rumah pembicaraan damai di Islamabad pada 11-12 April 2026.

Meski pembicaraan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir telah berkunjung ke Iran pada 22-23 Mei 2026 untuk membahas kesepakatan damai.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Iran siap meyakinkan komunitas internasional bahwa negaranya tidak mengembangkan senjata nuklir maupun menciptakan ketidakstabilan kawasan.

Pezeshkian menuding Israel menjadi pihak yang mendorong ketidakstabilan melalui visi "Israel Raya".

Ia juga menegaskan negosiator Iran tidak akan berkompromi terkait "kehormatan dan martabat" negara.

Pernyataan Pezeshkian muncul sehari setelah Donald Trump mengatakan kesepakatan damai dengan Iran sebagian besar telah dirundingkan dan tinggal menunggu finalisasi.

Hingga kini, baik AS maupun Iran belum merilis detail negosiasi secara terbuka kepada publik.

Konflik Picu Gangguan Energi Global

Ketegangan di Timur Tengah bermula pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran.

Serangan tersebut menimbulkan kerusakan dan korban sipil.

Pada 7 April 2026, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.

Namun pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.

Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian serangan untuk memberi waktu kepada Iran menyusun "proposal terpadu".

Konflik tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global.

Dampak konflik menyebabkan harga energi melonjak tajam dan menambah tekanan terhadap perekonomian dunia.

Penulis :
Arian Mesa