HOME  ⁄  Geopolitik

Kenaikan Kasus Ebola di Kongo dan Uganda pada Mei 2026 Mendorong Peringatan Darurat Kesehatan Global oleh WHO

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kenaikan Kasus Ebola di Kongo dan Uganda pada Mei 2026 Mendorong Peringatan Darurat Kesehatan Global oleh WHO
Foto: Ebola. (sumber: Kemenkes)

Pantau - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan Ebola sebagai kegawatdaruratan kesehatan global berisiko sangat tinggi di Republik Demokratik Kongo setelah lonjakan kasus sejak awal Mei 2026 dengan 906 kasus terduga, 105 kasus terkonfirmasi, 223 kematian terduga, serta 10 kematian terkonfirmasi di Kongo dan tambahan kasus di Uganda.

Sejarah dan Pola Penyebaran Ebola

Ebola pertama kali terdeteksi pada tahun 1976 di wilayah yang kini dikenal sebagai Republik Kongo dan Sudan Selatan.

Pada periode 1979 hingga 1994 tidak ditemukan kasus atau wabah Ebola pada manusia.

Sejak tahun 1994, frekuensi wabah Ebola meningkat dan menjadi lebih sering terjadi di berbagai wilayah Afrika.

Hingga tahun 2014, sebagian besar wabah dilaporkan berasal dari desa terpencil di dekat hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat.

Wabah Afrika Barat pada periode 2014 hingga 2016 menyebabkan krisis kesehatan global dengan lebih dari 28.000 kasus dan ribuan kematian.

Beberapa negara seperti Italia, Mali, Nigeria, Senegal, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat melaporkan kasus impor Ebola akibat mobilitas manusia lintas negara.

Ebola merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia dan kemudian menyebar antarmanusia.

Wabah saat ini di Afrika Tengah didominasi oleh strain Bundibugyo ebolavirus yang pertama kali ditemukan di Uganda pada 2007.

Kondisi Terkini dan Tantangan Pengendalian Wabah

Peningkatan kasus Ebola di Kongo dan Uganda pada 2026 menunjukkan bahwa wabah masih berada pada fase pengawasan dan investigasi intensif.

Uganda melaporkan 7 kasus terkonfirmasi dan 1 kematian terkonfirmasi dalam periode yang sama.

Keterbatasan diagnostik, lambatnya identifikasi kasus, serta sulitnya pelacakan kontak menjadi tantangan utama di wilayah terdampak.

Gejala awal Ebola yang mirip dengan malaria, tifoid, atau demam biasa menyebabkan keterlambatan deteksi kasus di lapangan.

Pengendalian wabah sangat bergantung pada sistem surveilans epidemiologi, kemampuan laboratorium, serta kesiapsiagaan kesehatan masyarakat.

Mobilitas manusia, perdagangan global, dan perpindahan penduduk meningkatkan risiko penyebaran penyakit lintas negara di era globalisasi.

Bandara, pelabuhan, dan jalur perdagangan global berpotensi menjadi pintu masuk penyebaran penyakit infeksi berbahaya ke negara lain termasuk Indonesia.

Penguatan sistem kesehatan, pelatihan tenaga medis, penggunaan alat pelindung diri, serta isolasi pasien menjadi langkah penting dalam pengendalian wabah.

Pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa krisis kesehatan global dapat menyebar cepat meskipun sumber awal berada jauh dari negara terdampak.

Ebola kembali dipandang sebagai pengingat bahwa ancaman penyakit menular dapat muncul kapan saja dan di mana saja sehingga kesiapsiagaan sistem kesehatan menjadi faktor kunci.

Penulis :
Arian Mesa