
Pantau - Seorang pejabat medis di Jalur Gaza melaporkan sebanyak 4.000 kasus keguguran tercatat sepanjang paruh pertama 2026 di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan, keterbatasan layanan kesehatan, dan situasi konflik yang masih berlangsung.
Kondisi Kehidupan Dinilai Memicu Lonjakan Kasus
Direktur bantuan medis di Jalur Gaza Bassam Zaqout menyatakan lonjakan kasus keguguran dipicu oleh berbagai faktor yang memperburuk kondisi ibu hamil.
Ia mengungkapkan para ibu hamil harus melewati jalan yang tidak beraspal dengan transportasi yang padat dan tidak aman, menghadapi ketakutan akibat pemboman, tidur di atas tanah, serta mengalami keterbatasan air panas dan perlengkapan kebersihan.
Menurut Zaqout, penyebaran penyakit kulit dan kondisi yang tidak higienis di kamp-kamp pengungsian turut memperbesar risiko gangguan kesehatan bagi ibu hamil.
Krisis Kesehatan dan Bantuan Kemanusiaan Memburuk
Zaqout mengatakan krisis kesehatan semakin parah akibat kekurangan obat-obatan, peralatan, pasokan medis, peralatan diagnostik, serta reagen laboratorium karena pembatasan dan blokade terhadap masuknya sumber daya penting.
Ia juga melaporkan wabah penyakit menular dan infeksi virus terus meluas, terutama di kalangan pengungsi.
Ribuan kasus cacar air dilaporkan terjadi setiap pekan bersamaan dengan meningkatnya infeksi saluran pernapasan dan diare cair yang dikaitkan dengan air yang terkontaminasi.
Zaqout menambahkan berkurangnya aliran bantuan kemanusiaan, pasokan makanan, dan perlengkapan kebersihan dalam beberapa bulan terakhir semakin memperburuk kondisi di kamp-kamp pengungsian yang padat penduduk.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





