
Pantau - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan bahwa Eropa tidak akan menjadi mediator netral dalam konflik Rusia dan Ukraina karena tetap berada di pihak Kiev serta mempertahankan kepentingan keamanan kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Kallas usai menghadiri pertemuan informal para menteri luar negeri Uni Eropa di Limassol, Siprus Yunani, Kamis (28/5).
“Satu hal yang sangat jelas: Eropa tidak akan pernah menjadi mediator netral antara Rusia dan Ukraina karena kami berada di pihak Ukraina dan kami membela kepentingan keamanan inti kami sendiri,” kata Kallas kepada wartawan.
Meski demikian, ia menilai penyelesaian konflik pada akhirnya harus dilakukan melalui dialog langsung antara Rusia dan Ukraina.
"Sangat penting bahwa kita mendorong Ukraina dan Rusia untuk berbicara satu sama lain, karena ada begitu banyak masalah yang hanya mereka yang dapat memutuskan dan tidak ada orang lain," ujarnya.
Uni Eropa Bahas Tekanan Baru terhadap Rusia
Kallas mengungkapkan para menteri luar negeri Uni Eropa melakukan pembahasan mendalam terkait kemungkinan konsesi yang dapat diminta dari Moskow serta batas-batas yang tidak boleh dilanggar dalam negosiasi mendatang.
Ia menolak gagasan pembatasan militer Ukraina tanpa adanya pembatasan serupa terhadap Rusia.
"Membatasi militer Ukraina sementara Rusia mempersenjatai diri kembali, yang secara langsung mengancam keamanan Eropa. Jika ada celah untuk militer Ukraina, maka harus ada juga batasan untuk Rusia," katanya.
Uni Eropa juga membahas langkah-langkah untuk meningkatkan tekanan global terhadap Rusia, termasuk melalui instrumen perdagangan, investasi, akses pasar, dan kemitraan internasional.
Kallas menyebut Uni Eropa saat ini tengah menyiapkan paket sanksi baru terhadap Rusia.
Ia menegaskan langkah Uni Eropa akan tetap berjalan seiring dengan upaya diplomasi yang dilakukan Amerika Serikat.
"Kami tidak menggantikan Amerika Serikat, tetapi kami sebenarnya menangani masalah yang belum mereka tangani dalam pembicaraan ini," ungkapnya.
Situasi Timur Tengah Turut Jadi Sorotan
Selain konflik Rusia-Ukraina, para menteri Uni Eropa juga membahas perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, Selat Hormuz, Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat.
Kallas memperingatkan bahwa Selat Hormuz saat ini berada dalam kondisi yang rentan terhadap eskalasi konflik.
Ia menggambarkan kawasan tersebut masih berada dalam "zona abu-abu berbahaya antara perang dan perdamaian".
Terkait Lebanon, Kallas menilai gencatan senjata yang berlaku semakin rapuh dan berisiko memicu kembali konflik berskala besar.
Para menteri juga membahas kemungkinan pembatasan perdagangan terkait pendudukan Israel serta potensi sanksi terhadap sejumlah menteri Israel.
Namun, Kallas menegaskan pertemuan informal tersebut belum ditujukan untuk mengambil keputusan resmi dan pembahasan akan dilanjutkan dalam pertemuan Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa mendatang di Luksemburg.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





