
Pantau - Biro Pengukiran dan Percetakan Amerika Serikat (Bureau of Engraving and Printing atau BEP) dilaporkan tengah mempertimbangkan pencetakan uang kertas pecahan 250 dolar AS yang menampilkan potret Presiden Donald Trump sebagai bagian dari peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat.
Laporan CNN menyebutkan rencana tersebut sedang melalui proses kajian dan persiapan sesuai ketentuan legislasi yang berlaku.
Seorang juru bicara Departemen Keuangan Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah melakukan proses perencanaan dan evaluasi terkait usulan tersebut.
Usulan Berasal dari Anggota DPR AS
Gagasan penerbitan uang pecahan 250 dolar AS bergambar Trump diajukan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat dari Partai Republik, Joe Wilson, yang mewakili Negara Bagian South Carolina.
Menurut laporan CNN, legislasi tersebut bertujuan memberikan pengakuan simbolis kepada presiden yang menjabat dalam momentum peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat.
Sementara itu, laporan The Washington Post menyebut sejumlah pejabat pemerintahan Trump telah mendorong BEP untuk menyiapkan desain prototipe uang kertas tersebut.
Laporan itu mengutip empat karyawan dan mantan karyawan BEP yang mengetahui proses pembahasan internal terkait rencana tersebut.
Berpotensi Jadi yang Pertama dalam 150 Tahun
Apabila rencana itu terealisasi, Trump akan menjadi tokoh pertama yang masih hidup yang wajahnya dicetak pada mata uang Amerika Serikat dalam lebih dari 150 tahun terakhir.
Menurut aturan yang berlaku, pencetakan potret orang yang masih hidup pada mata uang Amerika Serikat telah dilarang sejak 1866.
Larangan tersebut diterapkan setelah potret seorang pejabat tingkat menengah Departemen Keuangan pernah dicetak pada uang kertas pecahan lima sen.
Laporan The Washington Post juga menyebut Bendahara Amerika Serikat Brandon Beach dan penasihat seniornya Mike Brown telah beberapa kali meminta staf BEP menyiapkan rancangan awal uang pecahan 250 dolar AS sejak tahun lalu.
Meski demikian, legislasi yang menjadi dasar penerbitan uang tersebut masih menunggu tindak lanjut dari Kongres Amerika Serikat dan belum memperoleh persetujuan resmi.
- Penulis :
- Aditya Yohan





