HOME  ⁄  Geopolitik

UEA Keluar dari OPEC Memicu Menguatnya Friksi Geopolitik dengan Arab Saudi di Tengah Perubahan Peta Timur Tengah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

UEA Keluar dari OPEC Memicu Menguatnya Friksi Geopolitik dengan Arab Saudi di Tengah Perubahan Peta Timur Tengah
Foto: Arsip foto - Putra Mahkota dan Menteri Pertahanan Arab Saudi Mohammad bin Salman al-Saud (Kiri) disambut oleh Penasihat Keamanan Nasional Uni Emirat Arab (UEA), Tahnoun bin Zayed Al Nahyan (Kanan) dalam sebuah upacara resmi di istana kepresidenan Qasr Al-Waṭan di Abu Dhabi, UEA pada 7 Desember 2021. (sumber: ANTARA/Anadolu Agency)

Pantau - Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 1 Mei yang terjadi di tengah ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memunculkan kembali friksi dengan Arab Saudi serta menyorot pergeseran hubungan kedua negara Teluk di kawasan Timur Tengah.

Dari Aliansi Dekat ke Perbedaan Strategis

Sekitar satu dekade lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan pemimpin UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) dikenal sebagai sekutu dekat.

Keduanya berasal dari generasi kepemimpinan baru dan memiliki kesamaan visi untuk mendobrak kemapanan politik kawasan.

Keduanya juga bekerja sama merespons gelombang Arab Spring pada 2010-an untuk menjaga stabilitas kekuasaan di kawasan Teluk.

Arab Saudi dan UEA juga pernah bersekutu dalam perang di Yaman sejak 2018 serta bersama-sama mengisolasi Qatar pada 2017 hingga 2021 karena perbedaan pandangan terhadap isu keamanan regional.

Ketegangan Ekonomi dan Kebijakan OPEC

Hubungan kedua negara mulai merenggang ketika Arab Saudi mendorong ambisi menjadikan negaranya sebagai pusat bisnis utama Timur Tengah.

Langkah tersebut dipandang UEA sebagai tantangan langsung terhadap posisi Dubai yang selama ini menjadi pusat bisnis regional.

Kebijakan Saudi yang mewajibkan perusahaan asing kontraktor pemerintah membuka kantor di Riyadh turut memicu ketegangan ekonomi dengan UEA.

Hingga Maret 2025, sekitar 600 perusahaan multinasional telah membuka kantor regional di Riyadh yang memperkuat kekhawatiran UEA terhadap persaingan ekonomi.

UEA juga menilai sistem kuota produksi minyak dalam OPEC terlalu dipengaruhi Arab Saudi dan membatasi fleksibilitas produksi mereka.

Ketidakpuasan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong keputusan UEA keluar dari OPEC pada 1 Mei.

Perbedaan Sikap di Yaman, Sudan, dan Iran-Israel

Dalam konflik Yaman, Arab Saudi mendorong pemerintahan bersatu yang stabil demi keamanan kawasan.

UEA justru lebih condong mendukung struktur kekuasaan lokal yang terpisah sesuai kepentingan strategisnya.

Perbedaan juga terlihat di Sudan, di mana Arab Saudi mendukung pemerintahan resmi demi stabilitas kawasan Laut Merah.

UEA diketahui mendukung kelompok Rapid Support Force yang berseberangan dengan pemerintah Sudan.

Arab Saudi menilai stabilitas Sudan penting karena ketidakstabilan dapat berdampak pada Mesir sebagai sekutu strategis di kawasan.

Dalam isu Iran dan Israel, UEA cenderung lebih terbuka terhadap opsi tindakan tegas terhadap Iran.

Arab Saudi memilih pendekatan diplomatik karena khawatir konflik langsung dapat merusak infrastruktur vital seperti fasilitas minyak dan desalinasi air.

Arah Baru Geopolitik Timur Tengah

UEA semakin memperluas pengaruh melalui normalisasi hubungan dengan Israel dalam Abraham Accord pada 2020.

Arab Saudi bersikap lebih hati-hati dan menunda langkah normalisasi setelah eskalasi konflik di Gaza.

UEA juga memperkuat kerja sama pertahanan dan akses teknologi dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir.

Arab Saudi memperkuat hubungan dengan Mesir, Turki, dan Pakistan untuk menjaga keseimbangan stabilitas kawasan.

Dalam banyak kasus, UEA dinilai lebih intervensionis dengan mendukung aktor non-negara yang dianggap sejalan dengan kepentingannya.

Sementara itu, Arab Saudi berupaya menjaga stabilitas kawasan agar mendukung agenda pembangunan ekonominya serta mempertahankan keseimbangan kekuatan terhadap Iran dan Israel.

Sejumlah analis menilai kedua negara kini berada pada jalur geopolitik yang semakin berbeda meski masih mempertahankan kerja sama formal di tingkat regional.

Perbedaan ini berpotensi bersifat sementara, namun juga dapat berkembang menjadi pergeseran jangka panjang dalam peta kekuatan Timur Tengah.

Penulis :
Arian Mesa