
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik Ukraina agar tidak menyerang fasilitas dan infrastruktur vital menyusul insiden drone di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporozhye.
Seruan tersebut disampaikan Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Farhan Haq mengatakan PBB menginginkan semua pihak menahan diri dan menghindari serangan terhadap fasilitas penting yang dapat memperburuk situasi konflik.
Pernyataan itu muncul setelah terjadinya insiden drone di PLTN Zaporozhye yang menjadi perhatian internasional terkait keselamatan infrastruktur nuklir di tengah perang yang masih berlangsung.
Insiden Drone Picu Ledakan di Aula Turbin
Sebelumnya, CEO Rosatom Alexey Likhachev menyatakan bahwa drone Ukraina menghantam gedung aula turbin Unit 6 di PLTN Zaporozhye.
Menurut Likhachev, serangan tersebut memicu ledakan di area fasilitas pembangkit.
Berdasarkan laporan yang tersedia, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Laporan itu juga menyebut tidak terjadi kerusakan kritis pada peralatan utama pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut.
Pihak pengelola PLTN menjelaskan bahwa aula turbin yang terkena serangan berada sekitar belasan kaki dari aula reaktor.
Guterres Peringatkan Risiko Eskalasi Konflik
Sebelumnya, pada 28 Mei 2026, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa konflik Ukraina berisiko lepas kendali seiring meningkatnya eskalasi perang.
Dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Ukraina, Guterres mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perkembangan situasi di medan konflik.
"Arah perang – eskalasi dan intensifikasi yang kita saksikan – berisiko lepas kendali," ungkapnya.
Menurut Guterres, kondisi saat ini membutuhkan langkah deeskalasi, gencatan senjata, dan diplomasi yang lebih intensif untuk mencegah memburuknya situasi.
"Yang dibutuhkan saat ini adalah menciptakan kondisi untuk perdamaian yang adil, abadi, dan komprehensif - sesuai dengan Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi PBB," tegasnya.
PBB menilai serangan terhadap infrastruktur vital dapat memperbesar risiko konflik serta berpotensi memperburuk kondisi keamanan dan kemanusiaan.
Fokus utama PBB saat ini adalah mendorong semua pihak menahan diri, menghindari eskalasi lebih lanjut, dan membuka ruang bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
- Penulis :
- Gerry Eka





