
Pantau - Hamas menyatakan sedang melakukan konsultasi dengan para mediator terkait sejumlah usulan untuk melanjutkan ke fase kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza di tengah meningkatnya ketegangan dan operasi militer Israel di wilayah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara Hamas Hazem Qassem pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Menurut Hamas, konsultasi yang berlangsung saat ini berfokus pada pembahasan berbagai pendekatan yang dinilai masuk akal guna memfasilitasi transisi menuju fase berikutnya dari perjanjian gencatan senjata.
Hamas tidak merinci isi usulan yang sedang dibahas maupun mekanisme yang akan digunakan dalam proses transisi tersebut.
Hamas Tuding Israel Langgar Kesepakatan
Hazem Qassem menuding Israel gagal mematuhi ketentuan yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.
Hamas meminta para mediator mengambil sikap yang jelas terhadap perkembangan terkini dan mendorong Israel untuk memenuhi seluruh komitmen dalam kesepakatan tersebut.
Selain itu, Hamas juga menyerukan kepada komunitas internasional dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mendukung pelaksanaan perjanjian gencatan senjata.
Kelompok tersebut memperingatkan bahwa eskalasi konflik yang terus berlanjut berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan dan keamanan di Jalur Gaza.
Israel Perluas Kendali Wilayah Gaza
Sebelumnya, pada Kamis, 28 Mei 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah menginstruksikan militer untuk memperluas kendali wilayah di Gaza.
Menurut pernyataan Netanyahu, wilayah yang berada di bawah kendali Israel meningkat dari 60 persen menjadi 70 persen wilayah Gaza.
Dalam beberapa hari terakhir, Israel juga dilaporkan meningkatkan serangan udara di sejumlah wilayah Gaza.
Sasaran serangan disebut mencakup bangunan permukiman, tenda pengungsi, dan sejumlah lokasi lainnya.
Berdasarkan data otoritas kesehatan di Gaza, sebanyak 929 warga Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025.
Sementara itu, total korban tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023 dilaporkan mencapai 72.938 jiwa.
- Penulis :
- Gerry Eka





