HOME  ⁄  Geopolitik

Rusia Kritik Keputusan Norwegia Bergabung dalam Payung Nuklir Prancis dan Sebut Mengancam Stabilitas Global

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Rusia Kritik Keputusan Norwegia Bergabung dalam Payung Nuklir Prancis dan Sebut Mengancam Stabilitas Global
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). (ANTARA/Anadolu/py).)

Pantau - Kedutaan Besar Rusia di Oslo menyatakan misi pembagian senjata nuklir North Atlantic Treaty Organization (NATO) di Eropa melemahkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (Non-Proliferation Treaty/NPT) setelah Norwegia memutuskan bergabung dalam inisiatif penangkalan nuklir Prancis.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas keputusan Norwegia yang diumumkan Perdana Menteri Jonas Gahr Støre pada 27 Mei 2026 untuk berada di bawah perlindungan "payung nuklir" Prancis, meski tetap menegaskan tidak akan menempatkan senjata nuklir di wilayahnya pada masa damai.

Rusia menilai kerja sama tersebut berpotensi mengganggu keamanan kawasan Euro-Arktik dan stabilitas global.

“Rusia menilai interaksi semacam itu di antara negara-negara NATO sebagai sesuatu yang sangat negatif, karena dianggap sebagai 'misi nuklir bersama' yang merusak rezim NPT, keamanan di kawasan Euro-Arktik, serta stabilitas global secara lebih luas,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Rusia di Oslo.

Rusia juga menyoroti kemungkinan kerja sama antara Prancis dan Norwegia mencakup latihan militer bersama yang berkaitan dengan penangkalan nuklir.

Menurut Rusia, Norwegia dapat mendukung operasi tersebut menggunakan kemampuan militer konvensional yang dimilikinya.

Salah satu aset yang disorot adalah pesawat tempur Lockheed Martin F-35 Lightning II yang berpotensi digunakan untuk mendukung pengangkut senjata nuklir milik Prancis.

Moskwa menilai pola kerja sama tersebut memiliki kemiripan dengan keterlibatan sejumlah negara NATO dalam latihan nuklir tahunan Steadfast Noon.

Pada Maret 2026, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan negaranya memasuki era “penangkalan nuklir tingkat lanjut”.

Dalam kebijakan tersebut, Prancis berencana meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir yang dimilikinya serta membuka peluang partisipasi negara-negara Eropa dalam latihan penangkalan nuklir bersama.

Macron menyebut delapan negara Eropa yang akan bergabung dengan doktrin penangkalan nuklir Prancis, yakni United Kingdom, Germany, Poland, Netherlands, Belgium, Greece, Sweden, dan Denmark.

Langkah tersebut dipandang sejumlah negara Eropa sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan kolektif di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.

Steadfast Noon merupakan latihan militer tahunan NATO yang dirancang untuk menguji kesiapan prosedur penangkalan nuklir.

Latihan tersebut berfokus pada kesiapan personel dan awak pesawat dalam menjalankan misi penyerangan strategis.

NATO menegaskan tidak ada senjata nuklir sungguhan yang digunakan selama latihan berlangsung.

Belasan negara anggota NATO biasanya terlibat dalam latihan yang digelar selama dua pekan pada Oktober setiap tahun tersebut.

Berbagai jenis pesawat tempur, pesawat tanker, pesawat pengintai, hingga pesawat pembom jarak jauh seperti Boeing B-52 Stratofortress turut dikerahkan dalam kegiatan tersebut.

Perdebatan mengenai kerja sama penangkalan nuklir di Eropa terus berlangsung karena Rusia menilai langkah itu berpotensi meningkatkan ketegangan keamanan regional dan global, sementara Prancis serta sejumlah negara Eropa memandangnya sebagai instrumen untuk memperkuat keamanan kawasan.

Penulis :
Gerry Eka