
Pantau - Lebanon dan Israel menyepakati pembentukan zona percontohan yang berada di bawah kendali eksklusif Angkatan Bersenjata Lebanon sebagai bagian dari upaya memperkuat gencatan senjata dan membuka jalan menuju kesepakatan perdamaian yang lebih komprehensif.
Kesepakatan Dicapai dalam Perundingan yang Dimediasi AS
Kesepakatan tersebut diumumkan melalui pernyataan bersama setelah putaran keempat pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat di Departemen Luar Negeri AS pada Rabu (3/6).
“Gencatan senjata ini bergantung pada penghentian total tembakan Hizbullah dan evakuasi semua anggota Hizbullah dari Sektor Litani Selatan,” demikian isi pernyataan bersama tersebut.
Kedua pihak juga sepakat untuk “dengan cepat memajukan pembentukan zona percontohan di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan mengambil kendali eksklusif atas wilayah tersebut dengan mengecualikan semua aktor non-negara.”
Menurut pernyataan itu, langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi menuju perjanjian perdamaian dan keamanan yang lebih luas di masa mendatang.
Fokus pada Stabilitas dan Jalur Diplomatik
Lebanon dan Israel menegaskan kembali bahwa kedua negara tidak memiliki niat bermusuhan satu sama lain serta membahas kerangka keamanan yang mencakup pembubaran kelompok bersenjata non-negara dan pencegahan kemunculan kembali kelompok tersebut.
Kedua negara juga sepakat melanjutkan jalur politik dan keamanan pada 22 Juni mendatang untuk membahas kesepakatan yang lebih komprehensif.
Selain itu, pernyataan bersama turut mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara kawasan dan aktivitas yang dinilai mengganggu stabilitas Timur Tengah melalui dukungan terhadap kelompok proksi.
Konflik Masih Membayangi Kawasan
Perundingan berlangsung setelah serangkaian serangan yang terus terjadi di Lebanon meski gencatan senjata mulai berlaku pada 17 April dan diperpanjang hingga awal Juli 2026.
Menurut sumber Lebanon yang dikutip Anadolu, hari kedua negosiasi di Washington berlangsung lebih dari enam jam.
Konflik sempat memanas ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan peningkatan operasi militer di Lebanon dan menyerukan serangan terhadap Beirut.
Namun, laporan media menyebut Netanyahu kemudian meredakan sikapnya setelah percakapan telepon yang berlangsung tegang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kesepakatan terbaru ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menurunkan eskalasi konflik dan memperkuat stabilitas kawasan Timur Tengah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





