
Pantau - Faksi-faksi Palestina menggelar pertemuan tingkat tinggi di Kairo, Mesir, pada Minggu (7/6/2026) untuk membahas implementasi perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dengan dihadiri mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki.
Menurut saluran berita Mesir Al-Qahera News, pembahasan difokuskan pada usulan peta jalan untuk menyelesaikan implementasi tahap kedua perjanjian gencatan senjata Gaza.
Para peserta pertemuan juga menyepakati pentingnya menyelesaikan implementasi rencana perdamaian 20 poin yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kesepakatan tersebut menekankan pelaksanaan seluruh resolusi yang tercantum dalam tahap pertama perjanjian gencatan senjata.
Fokus Pembahasan Tahap Kedua Perjanjian
Pertemuan berlangsung di tengah hambatan dalam pelaksanaan sejumlah klausul penting dalam perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Salah satu isu yang masih menjadi kendala dalam pembahasan adalah pelucutan senjata.
Selain itu, proses rekonstruksi Jalur Gaza juga masih menjadi persoalan yang belum tuntas.
Tahap pertama perjanjian gencatan senjata mencakup pertukaran tahanan dan tawanan, masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, serta penarikan pasukan Israel dari sejumlah wilayah di Gaza.
Pada pertengahan Januari 2026, Amerika Serikat mengumumkan dimulainya tahap kedua perjanjian gencatan senjata.
Setelah pengumuman tersebut, sebuah komite teknokrat Palestina transisional dibentuk untuk mengelola Jalur Gaza.
Komite tersebut beranggotakan 15 orang dan dipimpin oleh Ali Shaath.
Pembentukan komite itu menjadi bagian dari upaya transisi pemerintahan dan pengelolaan Gaza dalam kerangka perjanjian gencatan senjata.
Korban Tetap Bertambah di Tengah Gencatan Senjata
Berdasarkan data terbaru dari otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza, sedikitnya 961 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025.
Sebanyak 3.020 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam periode yang sama.
Secara keseluruhan, sejak perang Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas mencapai 72.971 orang.
Jumlah korban luka sejak konflik dimulai tercatat mencapai 173.012 orang.
- Penulis :
- Arian Mesa





