
Pantau - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengumumkan paket reformasi besar-besaran yang bertujuan memulihkan perekonomian nasional, mengurangi sentralisasi, serta memberikan otonomi yang lebih besar kepada berbagai sektor masyarakat melalui pidato yang disiarkan televisi pemerintah pada Sabtu.
Diaz-Canel menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan merupakan respons terhadap tekanan Amerika Serikat, melainkan langkah untuk memperkuat model ekonomi Kuba.
Ia mengungkapkan, “Negara ini tidak tinggal diam. Negara ini secara cerdas menghadapi seluruh keadaan. Kami tidak dapat mengungkapkan secara terbuka semua yang kami lakukan karena musuh mengawasi setiap langkah yang kami ambil. Respons kami harus berupa persatuan dan solidaritas.”
Paket reformasi itu akan diajukan dalam beberapa pekan mendatang kepada Biro Politik Partai Komunis Kuba sebelum diteruskan ke Majelis Nasional Kekuasaan Rakyat sebagai parlemen unikameral negara tersebut.
Reformasi Menyasar Pertanian, Investasi, dan Pemerintahan
Dalam sektor pertanian, pemerintah akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada para produsen untuk menjalankan kegiatan usaha mereka.
Pemerintah juga berencana menghapus kewajiban penggunaan perusahaan negara sebagai perantara dalam perdagangan luar negeri.
Pembatasan terhadap impor kendaraan akan dicabut sebagai bagian dari paket reformasi tersebut.
Kebijakan baru juga dirancang untuk meningkatkan investasi asing melalui pendekatan yang lebih terbuka.
Warga Kuba yang tinggal di luar negeri akan memperoleh hak yang sama dengan warga yang menetap di dalam negeri.
Untuk meningkatkan efisiensi pemerintahan dan mengurangi birokrasi, jumlah kementerian akan dipangkas dari 27 menjadi 20.
Pemerintah akan menghapus subsidi produk secara bertahap dan mengarahkan bantuan sosial kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Pariwisata Dibuka Lebih Luas di Tengah Dampak Sanksi Amerika Serikat
Pemerintah Kuba berencana memasuki tahap baru dalam pengembangan sektor pariwisata dengan membuka peluang bagi model bisnis dan operator baru.
Langkah tersebut diambil setelah sejumlah perusahaan asing mengurangi atau menghentikan kegiatan mereka di Kuba akibat sanksi Amerika Serikat.
Beberapa jaringan hotel internasional, termasuk Melia Hotels International, Iberostar, Blue Diamond Resorts, dan Archipelago International, telah mengumumkan penghentian sebagian atau seluruh operasional mereka di Kuba pada Juni karena sanksi tersebut.
Penghentian operasional itu menimbulkan ketidakpastian terhadap masa depan sekitar 50 hotel di Kuba yang sebagian besar dimiliki negara dan dikelola melalui Gaviota sebagai anak perusahaan holding militer GAESA.
Industri pariwisata Kuba telah menghadapi tekanan sejak pandemi COVID-19 dan semakin terdampak setelah pengetatan sanksi Amerika Serikat sejak Januari.
Penurunan jumlah wisatawan asing akibat kondisi tersebut turut mendorong sejumlah operator hotel dan maskapai penerbangan meninggalkan Kuba.
Berdasarkan data National Office of Statistics and Information (ONEI), sebanyak 328.608 wisatawan asing mengunjungi Kuba selama empat bulan pertama 2026 atau turun 55,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada April 2026, Kuba hanya mencatat kedatangan 30.551 wisatawan asing.
- Penulis :
- Gerry Eka





