billboard mobile
HOME  ⁄  Geopolitik

J.D. Vance Sebut Masa Depan Hubungan AS-Kuba Masih Dibahas Usai Kesepakatan dengan Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

J.D. Vance Sebut Masa Depan Hubungan AS-Kuba Masih Dibahas Usai Kesepakatan dengan Iran
Foto: (Sumber :Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance saat menyampaikan pidato di Islamabad, Pakistan. (ANTARA/HO-The White House).)

Pantau - Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance menyatakan pembahasan mengenai hubungan Amerika Serikat dan Kuba masih berlangsung setelah tercapainya kesepakatan terkait Iran, dengan penanganannya berada di bawah kewenangan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam konferensi pers pada Kamis (18/6) ketika menanggapi kemungkinan langkah Washington terhadap Kuba setelah penyelesaian konflik dengan Iran.

Vance mengatakan, “Kalian harus bertanya ke Marco Rubio soal Kuba. Kami ingin rakyat Kuba bahagia dan sukses. Kami sebenarnya sedang berdiskusi dengan Pemerintah Kuba saat ini tentang bagaimana mereka bisa mengubah cara mereka agar hal itu terwujud.”

Hubungan AS dan Kuba Kembali Jadi Sorotan

Isu Kuba kembali menjadi perhatian setelah Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyebut Kuba akan menjadi “yang berikutnya” setelah persoalan Iran terselesaikan.

Meski demikian, Trump belum memberikan rincian mengenai kebijakan atau langkah yang akan diambil pemerintahannya terhadap negara Karibia tersebut.

Di sisi lain, hubungan kedua negara masih diwarnai ketegangan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Januari lalu, Amerika Serikat memberlakukan bea masuk terhadap impor dari negara-negara yang memasok minyak ke Kuba dan menetapkan keadaan darurat terkait dugaan ancaman terhadap keamanan nasional AS.

Kuba Kritik Tekanan Washington

Pemerintah Kuba menilai kebijakan tersebut semakin memperburuk dampak embargo energi yang telah menekan perekonomian negara itu.

Menurut Havana, langkah Washington menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang berdampak pada sektor pembangkit listrik, transportasi, produksi pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Pada akhir Mei, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez menuding Marco Rubio sebagai salah satu tokoh utama di balik peningkatan tekanan Amerika Serikat terhadap Kuba.

Sementara itu, Departemen Kehakiman AS pada pertengahan Mei mendakwa Raul Castro dan lima perwira militer Kuba terkait insiden penembakan dua pesawat milik kelompok pengasingan Brothers to the Rescue pada 1996.

Pemerintah Kuba menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai provokasi politik, seraya menegaskan tindakan yang dilakukan saat itu merupakan bentuk pertahanan negara terhadap pelanggaran wilayah udara yang berulang.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Kemenkeu 2026