
Pantau - Amerika Serikat berharap pembicaraan teknis dengan Iran dapat dimulai secepat mungkin meski rencana keberangkatan Wakil Presiden AS J.D. Vance ke Swiss untuk menghadiri agenda terkait nota kesepahaman kedua negara dibatalkan.
Seorang juru bicara Gedung Putih pada Kamis (18/6) waktu setempat mengatakan pemerintah AS tetap berkomitmen melanjutkan proses negosiasi dengan Teheran.
“Kami berharap dapat memulai pembicaraan teknis sesegera mungkin,” ungkap juru bicara Gedung Putih tersebut.
Pernyataan itu disampaikan di tengah ketidakpastian jadwal kunjungan J.D. Vance ke Swiss yang sebelumnya direncanakan untuk menghadiri upacara penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.
Vance sebelumnya menyebut rencana perjalanan ke Swiss masih terbuka untuk dilaksanakan pada akhir pekan ini dengan menunggu kedatangan delegasi Iran.
Iran Sebut Upacara Penandatanganan Tidak Diperlukan
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan draf nota kesepahaman sebenarnya telah ditandatangani oleh presiden kedua negara sehingga tidak memerlukan seremoni penandatanganan resmi di Swiss.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan tetap akan mengikuti proses pembicaraan lanjutan dengan Amerika Serikat.
Sikap tersebut menunjukkan kedua negara masih membuka jalur diplomasi untuk menyelesaikan sejumlah isu strategis yang menjadi bagian dari kesepakatan.
Draf Kesepakatan Sudah Ditandatangani
Iran dan Amerika Serikat pada Minggu (14/6) mengonfirmasi penyusunan draf memorandum kesepakatan telah selesai.
Kedua negara kemudian menandatangani dokumen tersebut secara daring pada Kamis dini hari (18/6).
Dokumen itu mengatur penghentian konflik militer yang disebut telah berlangsung sejak 28 Februari.
Kesepakatan sementara tersebut memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan final terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi Amerika Serikat.
Selain itu, memorandum juga memuat jadwal pencabutan blokade laut oleh Amerika Serikat serta pemulihan pelayaran Iran melalui Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya normalisasi hubungan kedua negara yang selama ini diwarnai ketegangan terkait isu nuklir dan keamanan kawasan Timur Tengah.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








