HOME  ⁄  Geopolitik

PBB Sebut Kelangkaan Bahan Bakar Ganggu Layanan Kemanusiaan dan Perburuk Situasi di Gaza

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

PBB Sebut Kelangkaan Bahan Bakar Ganggu Layanan Kemanusiaan dan Perburuk Situasi di Gaza
Foto: (Sumber : Foto yang diambil pada 12 Juni 2026 ini menunjukkan tenda-tenda sementara untuk orang-orang Palestina yang terlantar di Kota Gaza. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad.)

Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan kelangkaan bahan bakar di Jalur Gaza mengganggu berbagai layanan kemanusiaan penting di tengah meningkatnya serangan udara, tembakan artileri, dan konflik bersenjata yang masih berlangsung di wilayah tersebut.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan insiden kekerasan terjadi di berbagai wilayah Gaza sepanjang akhir pekan, terutama di area barat yang dikenal sebagai "Garis Kuning" (Yellow Line), dengan warga sipil termasuk di antara korban tewas.

Pasokan Bantuan dan Bahan Bakar Masih Terbatas

OCHA menjelaskan perlintasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem saat ini menjadi satu-satunya jalur yang tersedia untuk masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Selama akhir pekan hingga Senin pagi waktu setempat, PBB berhasil mengumpulkan berbagai bantuan yang masuk melalui perlintasan tersebut, termasuk makanan, selimut, perlengkapan pendidikan, kebutuhan kebersihan, barang hiburan anak-anak, dan bahan bakar.

Meski demikian, OCHA menegaskan ketersediaan bahan bakar masih sangat terbatas akibat kendala pasokan dan pembatasan operasional.

"Akibatnya, pada pekan kedua Juni, mitra-mitra kemanusiaan di wilayah Gaza terpaksa memprioritaskan alokasi bahan bakar untuk layanan penyelamatan nyawa dan menangguhkannya untuk layanan yang kurang krusial," ungkap OCHA.

Menurut OCHA, organisasi kemanusiaan sebagian besar bergantung pada satu pemasok dari Mesir karena tidak adanya pembebasan pajak pertambahan nilai di Israel dan keterbatasan izin impor bahan bakar.

Selain itu, generator yang digunakan untuk mendukung layanan kemanusiaan juga kerap mengalami kendala karena kekurangan oli pelumas yang sulit memperoleh persetujuan masuk.

Kekerasan di Tepi Barat Masih Mengkhawatirkan

Selain situasi di Gaza, OCHA juga menyoroti tingginya tingkat kekerasan di Tepi Barat.

OCHA melaporkan pasukan Israel pada Minggu (21/6) menembak dan menewaskan seorang anak laki-laki serta seorang pria yang diduga terlibat dalam aksi pembakaran ban dan pelemparan bom molotov di Hebron.

Kantor tersebut menegaskan penggunaan kekuatan mematikan dalam penegakan hukum hanya boleh dilakukan sebagai upaya terakhir dan pelaku serangan yang melanggar hukum harus dimintai pertanggungjawaban.

OCHA juga mencatat sebanyak 230 insiden hambatan akses kemanusiaan terjadi sepanjang Januari hingga Mei 2026 di Tepi Barat, termasuk akibat pos pemeriksaan, penutupan jalan, dan berbagai pembatasan lainnya yang menyebabkan keterlambatan bahkan pembatalan misi bantuan.

PBB turut mengingatkan bahwa pembatasan terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) dan sejumlah organisasi nonpemerintah masih berlaku baik di Gaza maupun Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

Penulis :
Ahmad Yusuf