HOME  ⁄  Geopolitik

Presiden Lebanon Tegaskan Tetap Lanjutkan Negosiasi dengan Israel Meski Tuai Kritik

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Presiden Lebanon Tegaskan Tetap Lanjutkan Negosiasi dengan Israel Meski Tuai Kritik
Foto: (Sumber :Arsip foto - Warga Lebanon yang kembali ke rumah mereka dikejutkan oleh pemandangan kehancuran luas di Lebanon. Sekitar 40% dari lebih dari 1 juta orang yang mengungsi di Lebanon akibat serangan Israel telah kembali ke daerah asal mereka, kata juru bicara PBB Stephane Dujarric pada hari Rabu. Anadolu Agency/pri..)

Pantau - Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan tidak akan mundur dari keputusan untuk melanjutkan negosiasi dengan Israel meski mendapat kritik dari sejumlah kelompok politik, termasuk Hizbullah, dalam pertemuan dengan delegasi blok parlemen Pasukan Lebanon di Istana Kepresidenan Baabda, Beirut timur, Jumat (10/7).

Presiden Tegaskan Komitmen pada Jalur Diplomatik

Aoun menyatakan negosiasi merupakan langkah untuk menjaga kedaulatan Lebanon dan memulihkan hak-hak negaranya melalui jalur diplomatik.

"Mengapa rakyat Lebanon harus terus membayar harga untuk perang yang dipicu atas perintah aktor eksternal dan untuk kepentingan mereka?" ungkap Aoun.

"Saya jamin bahwa saya tidak akan mundur dari keputusan untuk bernegosiasi yang telah saya ambil," tegasnya.

Ia juga mengungkapkan, "Saya juga menegaskan bahwa semua posisi saya mencakup penjelasan kepada rakyat Lebanon tentang pentingnya jalan yang kita tempuh dan komitmen Lebanon terhadap kedaulatannya di setiap langkah yang kita ambil."

Menurut Aoun, kritik terhadap negosiasi langsung dengan Israel tidak beralasan karena Lebanon telah beberapa kali melakukan perundingan langsung dengan Israel sejak 1949.

Ia menambahkan bahwa perjanjian kerangka kerja yang diusulkan akan mengembalikan hak-hak Lebanon apabila seluruh ketentuannya dipatuhi dan diterapkan.

"Semua kritik yang menargetkan jalur ini berasal dari keinginan untuk mengembalikan isu Lebanon menjadi kartu di tangan Iran," ujarnya.

Hizbullah Tolak Kesepakatan

Jalur negosiasi tersebut mendapat penolakan dari Hizbullah dan sejumlah kekuatan politik Lebanon yang menilai perjanjian kerangka kerja lebih menguntungkan Israel serta seharusnya dilakukan melalui jalur tidak langsung.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem sebelumnya menyatakan perjanjian tersebut "sepenuhnya untuk kepentingan Israel", serta mendesak Presiden Aoun tetap menggunakan mekanisme negosiasi tidak langsung.

Pemimpin Druze Walid Jumblatt juga menyebut perjanjian itu sebagai "perjanjian sepihak yang dipaksakan oleh Israel", serta menilai perdamaian dengan Israel tidak memungkinkan.

Lebanon dan Israel diketahui menandatangani perjanjian kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat pada 26 Juni untuk mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Meski demikian, media Lebanon melaporkan tentara Israel masih melakukan penghancuran rumah di Khiam dan peledakan di Taybeh, sementara data resmi menunjukkan serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan melukai lebih dari 12.000 orang.

Penulis :
Aditya Yohan