HOME  ⁄  Geopolitik

IRGC Menyatakan Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali Jika Amerika Serikat Menghentikan Intervensi Militer

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IRGC Menyatakan Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali Jika Amerika Serikat Menghentikan Intervensi Militer
Foto: Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang berlabuh di Teluk Oman, lepas pantai Muscat, Oman, pada 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang sangat penting. Lalu lintas maritim di sepanjang koridor perdagangan global yang vital ini mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkat pada awal Februari (sumber: Anadolu Agency)

Pantau - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk lalu lintas kapal apabila Amerika Serikat menghentikan campur tangan militernya di jalur perairan strategis tersebut, sebagaimana disampaikan pada Senin.

IRGC Ajukan Syarat Pembukaan Selat Hormuz

IRGC menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya dapat dilakukan apabila Amerika Serikat mengakhiri intervensi militernya di kawasan tersebut.

IRGC juga menuntut adanya penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara atas wilayah perairan pesisir masing-masing.

"Satu-satunya cara agar Selat Hormuz dibuka kembali untuk lalu lintas kapal adalah dengan mengakhiri intervensi tentara Amerika yang menginvasi selat ini, dan dengan menunjukkan penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara atas perairan pesisir mereka sendiri," ungkap IRGC.

IRGC memperingatkan bahwa campur tangan Amerika Serikat yang terus berlanjut berpotensi menimbulkan konsekuensi yang lebih besar terhadap perdagangan minyak dan gas dunia.

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat Terus Meningkat

Amerika Serikat telah melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran sejak 8 Juli.

Komando Pusat Amerika Serikat mengeklaim serangan tersebut merupakan respons atas dugaan campur tangan Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Penulis :
Leon Weldrick