HOME  ⁄  Geopolitik

Lula Mengecam Rencana Trump Ambil Alih Selat Hormuz dan Tarif Transit 20 Persen sebagai "Pembajakan"

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Lula Mengecam Rencana Trump Ambil Alih Selat Hormuz dan Tarif Transit 20 Persen sebagai "Pembajakan"
Foto: Arsip foto - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva berbicara pada Konferensi Tingkat Tinggi Kepala Negara Pasar Bersama Selatan (Mercosur) di Foz do Iguacu, Brasil, Sabtu 20/12/2025 (sumber: Xinhua/Lucio Tavora)

Pantau - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengecam rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Selat Hormuz dan mengenakan tarif transit sebesar 20 persen, dengan menyebut kebijakan tersebut sebagai "pembajakan" saat mengunjungi fasilitas laboratorium di Institut Teknologi Maua, Negara Bagian Sao Paulo, pada Senin (13/7).

Lula Sebut Rencana Trump sebagai Tindakan Tidak Demokratis

Kritik Lula disampaikan sebagai tanggapan atas unggahan di media sosial dan wawancara televisi Donald Trump yang mengeklaim Amerika Serikat akan bertindak sebagai penjaga Selat Hormuz.

Trump juga menuntut penerapan pungutan kargo tambahan sebesar 20 persen dengan alasan keamanan.

Lula mengatakan, "Dulu, tindakan itu disebut sebagai pembajakan."

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai negara yang memerangi aksi pembajakan.

Menurut Lula, Amerika Serikat tidak seharusnya berubah menjadi negara pembajak.

Lula juga menggambarkan rencana pemungutan biaya transit maritim tersebut sebagai tindakan yang tidak demokratis.

Selain itu, ia menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan yang tidak beradab.

Lula Soroti Dampak Ekonomi Global

Lula menilai tidak wajar apabila sebuah tragedi dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan dengan membebankan dampaknya kepada pihak lain.

Ia mengatakan, "Tidak wajar jika ada pihak yang memanfaatkan sebuah tragedi untuk meraup keuntungan dengan mengorbankan pihak lain."

Lula juga mengkritik dampak ekonomi yang lebih luas dari konflik yang dimotori Amerika Serikat terhadap negara-negara yang tidak terlibat.

Menurutnya, meningkatnya ketegangan global telah memicu kenaikan harga berbagai komoditas.

Lula mengatakan, “Harga dari peperangan ini telah merembet hingga ke kacang, beras, dan tomat kita.”

Penulis :
Arian Mesa