HOME  ⁄  Geopolitik

Laporan Sebut AS Akan Tambah Puluhan Pesawat Tanker di Israel untuk Antisipasi Eskalasi dengan Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Laporan Sebut AS Akan Tambah Puluhan Pesawat Tanker di Israel untuk Antisipasi Eskalasi dengan Iran
Foto: (Sumber :Sebuah pesawat KC-135 Stratotanker Angkatan Udara AS mengisi bahan bakar pesawat P-8 Poseidon di dekat Selat Hormuz, pada 21 April 2026. ANTARA/CENTCOM - Anadolu Agency/pri..)

Pantau - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah memberi tahu Israel mengenai rencana pengerahan puluhan pesawat pengisian bahan bakar di udara tambahan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi operasi militer terhadap Iran.

Laporan tersebut disampaikan Axios pada Jumat (17/7) dengan mengutip tiga pejabat Amerika Serikat dan Israel.

Puluhan Pesawat Tanker Sudah Berada di Israel

Menurut laporan Axios, sekitar 60 pesawat tanker militer Amerika Serikat saat ini telah berada di Israel.

Sekitar 30 pesawat ditempatkan di Bandar Udara Internasional Ben Gurion, dekat Tel Aviv.

Sekitar 30 pesawat lainnya berada di Bandar Udara Ramon di wilayah selatan Israel.

Amerika Serikat juga disebut telah meminta Israel menerima tambahan pesawat tanker, meski keputusan akhir berada di tangan Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu.

Usulan Kepala Otoritas Perhubungan Israel Miri Regev untuk mengurangi jumlah pesawat tanker di Bandara Ben Gurion dilaporkan ditolak oleh Otoritas Pertahanan Israel dan Angkatan Pertahanan Israel (IDF).

Militer Amerika Serikat memilih menggunakan Bandara Ben Gurion karena dinilai lebih aman dibandingkan pangkalan udara lain di kawasan.

Laporan itu juga menyebutkan penambahan pesawat tanker berpotensi menyebabkan pembatalan massal penerbangan sipil pada puncak musim liburan.

Ketegangan AS dan Iran Kembali Memanas

Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan perluasan operasi militer terhadap Iran, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk menguasai Pulau Kharg.

Pada 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman mengenai penghentian konflik yang dimulai pada 28 Februari.

Namun, sejak 8 Juli, militer Amerika Serikat kembali melancarkan sejumlah gelombang serangan terhadap Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Iran kemudian mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan campur tangan di kawasan.

Sehari setelahnya, Presiden Trump menyatakan Amerika Serikat akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Penulis :
Ahmad Yusuf