HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Ingin Tarif bagi Mitra Dagang Iran Ditambahkan ke RUU Sanksi Lindsey Graham

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Ingin Tarif bagi Mitra Dagang Iran Ditambahkan ke RUU Sanksi Lindsey Graham
Foto: (Sumber :Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. ANTARA/Binnur Ege Gürün Koçak - Anadolu Agency /pri. (ANTARA/Binnur Ege Gürün Koçak - Anadolu Agency /pr).)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginginkan tarif sekunder terhadap mitra dagang Iran dimasukkan ke dalam rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia yang dipelopori mendiang Senator AS Lindsey Graham.

Trump Dorong Penerapan Tarif untuk Iran

Trump menyampaikan usulan tersebut kepada wartawan pada Rabu dengan menilai kebijakan tarif tidak hanya perlu diterapkan terhadap Rusia, tetapi juga Iran.

Trump mengatakan, “Saya ingin mereka menambahkan Iran dalam bentuk tarif, bukan hanya sanksi. Saya pikir itu penting. Itulah yang diinginkan Lindsey, karena saya mendengar mereka memiliki tarif terhadap Rusia, tetapi tidak terhadap lima negara yang terkait dengan Iran.”

Ia melanjutkan, “Saya pikir mereka harus menerapkannya untuk Rusia, tetapi juga untuk Iran.”

Rancangan undang-undang tersebut mengusulkan penurunan tarif yang semula direncanakan sebesar 500 persen menjadi 100 persen bagi lima pembeli terbesar minyak dan gas Rusia.

Namun, RUU itu tetap menetapkan tarif sebesar 500 persen terhadap seluruh barang yang diimpor ke Amerika Serikat dari Rusia.

RUU Juga Atur Sanksi terhadap Iran dan Rusia

RUU bertajuk Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026 juga mengusulkan sanksi terhadap Bank Sentral Rusia, Sberbank, VTB, dan Gazprombank.

Selain itu, rancangan tersebut mencakup perpanjangan masa berlaku Iran Sanctions Act of 1996.

Sementara itu, Kedutaan Besar Rusia di Amerika Serikat menyatakan RUU sanksi baru tersebut justru akan merugikan pemerintahan Trump dan pada akhirnya lebih banyak berdampak negatif terhadap Amerika Serikat.

Penulis :
Ahmad Yusuf