HOME  ⁄  Geopolitik

Presiden Iran Masoud Pezeshkian Bantah Rumor Mundur di Tengah Eskalasi Konflik dengan Amerika Serikat

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Presiden Iran Masoud Pezeshkian Bantah Rumor Mundur di Tengah Eskalasi Konflik dengan Amerika Serikat
Foto: Arsip - Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat menerima delegasi Turki di Teheran, Iran, 3/7/2026 (sumber: Anadolu/Ahmet Okur)

Pantau - Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah rumor yang menyebut dirinya mengundurkan diri dari jabatan presiden di tengah eskalasi konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat, Selasa (4/8/2026).

Pezeshkian menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar dan ditujukan untuk membantah pemberitaan yang beredar di media oposisi Iran.

Dalam pidato yang disiarkan kantor berita IRNA, Pezeshkian mengatakan, "Jika saya akan mundur, saya pasti akan umumkan secara terbuka. Saya tak akan mengundurkan diri dan saya akan melanjutkan perjuangan," ungkapnya.

Media oposisi Iran sebelumnya mengklaim bahwa Pezeshkian telah beberapa kali mengajukan permohonan pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Pezeshkian Bantah Perselisihan dengan Khamenei

Pezeshkian juga membantah adanya perselisihan dengan Mojtaba Khamenei maupun konflik dengan angkatan bersenjata Iran.

Ia menegaskan bahwa dirinya, Khamenei, dan angkatan bersenjata Iran tetap bekerja sama dengan penuh keselarasan dalam menghadapi situasi yang sedang berlangsung.

"Semuanya tahu jika ada perselisihan, angkatan bersenjata pasti akan berada di sisi Khamenei," kata Pezeshkian.

Sebelumnya, Pezeshkian juga pernah menyampaikan bahwa Khamenei mendesak diakhirinya kondisi "tak perang, tak damai".

Konflik Iran dan Amerika Serikat Kembali Memanas

Iran berada dalam keadaan perang dengan Amerika Serikat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada Februari 2026.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang memiliki aset militer Amerika Serikat.

Pada April 2026, Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Kedua negara kemudian menandatangani memorandum perdamaian pada Juni 2026 melalui mediasi Pakistan dengan tujuan menghentikan konflik militer dan mewujudkan kesepakatan damai.

Namun, kesepakatan tersebut gagal terwujud pada Juli 2026 setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan.

Di tengah kabar adanya pembicaraan untuk menyelesaikan konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian menghentikan serangan udara secara tiba-tiba.

Penulis :
Leon Weldrick