HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Mengaku Masih Ingin Capai Kesepakatan dengan Iran Terkait Selat Hormuz dan Program Nuklir

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Mengaku Masih Ingin Capai Kesepakatan dengan Iran Terkait Selat Hormuz dan Program Nuklir
Foto: (Sumber :IArsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Akın Çeliktaş - Anadolu Agency /pri..)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih menginginkan tercapainya kesepakatan dengan Iran meski sebelumnya sempat menyiapkan opsi serangan militer, dengan fokus pembahasan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyelesaian isu program nuklir Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berbicara di hadapan para pendukungnya di Las Vegas dan dikutip dari laporan yang diterbitkan Kamis.

Trump mengungkapkan, “Saya lebih memilih mencapai kesepakatan karena saya tidak ingin mencelakai orang, saya tidak ingin membunuh orang. Namun, pada titik tertentu, kami akan melakukannya. Kami sudah mempersiapkan serangan terbesar dan telah menyerang mereka dengan sangat keras dalam beberapa bulan terakhir.”

Ia melanjutkan, “Kami telah bersiap melancarkan serangan terbesar sejak Perang Dunia II. Lalu mereka menelepon saya dan berkata, 'Tolong jangan lakukan itu. Mari kita bicara.' Namun kemudian mereka tidak melakukannya. Mereka malah mengatakan tidak pernah menyampaikan hal itu.”

Trump juga mengatakan Iran menghormati Amerika Serikat dan menambahkan, “Kita lihat saja apa yang akan terjadi.”

Trump sebelumnya pada Ahad, 2 Agustus 2026, menyatakan membatalkan rencana serangan terhadap Iran karena masih terdapat peluang untuk mencapai kesepakatan penyelesaian yang belum difinalisasi.

Kesepakatan tersebut secara umum mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penyelesaian isu program nuklir Iran.

Laporan The New York Times menyebut rancangan kesepakatan memuat ketentuan agar Iran dan Oman mencapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 60 hari.

Informasi mengenai perkembangan tersebut disampaikan berdasarkan laporan Sputnik/RIA Novosti-OANA.

Penulis :
Ahmad Yusuf