
Pantau - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengecam apa yang disebutnya sebagai "diplomasi sandiwara" Amerika Serikat dalam perundingan kedua negara, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengumumkan rencana serangan lalu membatalkannya.
Iran Soroti Sikap AS dalam Perundingan
Ghalibaf yang juga memimpin tim negosiator Iran menyampaikan kritik tersebut melalui akun X pada Jumat.
Ia mengungkapkan, "Serangan besar-besaran akan datang, tunggu, lupakan saja, mereka ingin bernegosiasi. Itulah diplomasi sandiwara yang berulang-ulang."
Menurut Ghalibaf, penggunaan intimidasi, janji yang tidak ditepati, dan penyebaran berita palsu mencerminkan kegagalan strategi Amerika Serikat.
"Akui saja faktanya dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak perlu sandiwara lagi," ungkapnya.
Perundingan Hormuz Masih Terhambat
Sebelumnya pada Kamis (6/8), Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya terlibat dalam negosiasi untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengisyaratkan kesepakatan akan segera tercapai.
Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer.
AS menargetkan fasilitas militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), sedangkan Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Eskalasi tersebut terjadi meski kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni dan memulai perundingan menuju kesepakatan final.
Perundingan kemudian terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan dan pasokan energi dunia.
Pekan lalu, Trump juga mengancam akan menyerang Iran "dengan sangat keras."
Namun, ia kemudian menyatakan rencana serangan dibatalkan karena Iran bersedia kembali ke meja perundingan.
Sejumlah media AS juga melaporkan menipisnya persediaan rudal pencegat menjadi salah satu faktor yang mendorong penundaan serangan tersebut.
- Penulis :
- Aditya Yohan



