HOME  ⁄  Geopolitik

Presiden Pezeshkian Tegaskan Iran Siap Lanjutkan Jalur Perdamaian jika AS Bangun Kepercayaan

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Presiden Pezeshkian Tegaskan Iran Siap Lanjutkan Jalur Perdamaian jika AS Bangun Kepercayaan
Foto: Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat kunjungan ke markas besar Palang Merah Iran (IRCS) di Teheran, Iran, Rabu (15/4/2026).

Pantau - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya siap melanjutkan jalur perdamaian dengan Amerika Serikat (AS) apabila Washington membangun kembali kepercayaan dalam proses perundingan berdasarkan nota kesepahaman atau MoU yang telah disepakati kedua negara.

Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut dalam konferensi pers dengan menekankan adanya solidaritas, kekuatan, dan persatuan di dalam negeri Iran.

"Sekarang adalah waktu terbaik untuk mencapai kesepakatan, karena ada solidaritas, kekuatan, dan persatuan di dalam negeri," katanya.

Iran Jadikan MoU sebagai Landasan Perundingan

Pezeshkian mengatakan Iran bertekad menggunakan MoU sebagai dasar untuk melanjutkan proses perdamaian dengan syarat AS menghilangkan suasana ketidakpercayaan.

"Kami bertekad untuk menggunakan MoU tersebut sebagai landasan dengan syarat AS menghilangkan suasana ketidakpercayaan yang telah diciptakannya, dan suasana saling percaya dapat terbentuk," ujarnya.

Iran juga menekankan prinsip timbal balik dalam negosiasi dengan AS sehingga tingkat komitmen Teheran akan disesuaikan dengan kepatuhan Washington terhadap kesepakatan.

Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan tinggal diam apabila pihak lain menggunakan kekuatan dalam menghadapi negaranya.

Keputusan akhir mengenai langkah Iran disebut akan bergantung pada keputusan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.

Kesepakatan Final Masih Diliputi Ketidakpastian

Iran dan AS pada Juni 2026 menandatangani MoU mengenai penghentian perang di semua front, termasuk Lebanon.

Kedua negara semula dijadwalkan mengadakan negosiasi dalam kurun waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan final.

Namun, eskalasi terbaru di kawasan menimbulkan ketidakpastian mengenai kelanjutan perundingan antara Teheran dan Washington.

Penulis :
Gerry Eka