
Pantau - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjamin pelayaran bebas dan aman di Selat Hormuz tanpa biaya tambahan di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan kawasan.
Desakan tersebut disampaikan Takaichi dalam percakapan telepon dengan Pezeshkian pada Rabu (12/8/2026).
Takaichi menekankan pentingnya menurunkan eskalasi ketegangan militer ketika Iran melanjutkan dialog dengan sejumlah negara terkait pembukaan Selat Hormuz.
Jepang Dorong Diplomasi AS-Iran
Takaichi menyampaikan pandangan Jepang agar Amerika Serikat dan Iran kembali berunding dengan menjadikan Memorandum Islamabad sebagai acuan untuk mencapai kesepakatan akhir, termasuk terkait isu nuklir.
Ia juga menyampaikan harapan kuat agar "de-eskalasi situasi melalui diplomasi" dapat segera dicapai.
Takaichi menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk "pelayaran yang bebas dan aman tanpa biaya tambahan" serta mendorong pembahasan bersama komunitas internasional, khususnya negara-negara pengguna jalur tersebut.
Jepang turut menyampaikan kekhawatiran terhadap situasi di Selat Bab Al-Mandeb dan meminta langkah untuk mendorong kelompok Houthi di Yaman menahan diri.
Bab Al-Mandeb yang berada di sisi barat Jazirah Arab merupakan jalur strategis yang menjadi pintu masuk menuju Laut Merah.
Takaichi juga mendesak Iran segera menyelesaikan kasus seorang warga negara Jepang yang dibebaskan dengan jaminan di Iran pada April 2026.
Iran Jelaskan Dialog soal Selat Hormuz
Pezeshkian dalam pembicaraan tersebut menjelaskan status dan proyeksi dialog Iran dengan Oman terkait Selat Hormuz.
Mengenai Selat Bab Al-Mandeb, Pezeshkian memastikan sejumlah langkah telah diambil untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog, termasuk dengan Arab Saudi.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman perdamaian pada 17 Juni 2026 dan melanjutkan perundingan untuk mencapai kesepakatan akhir.
Perundingan tersebut kemudian gagal akibat perselisihan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur strategis perdagangan dan distribusi energi global.
Pada 8-24 Juli 2026, Amerika Serikat dan Iran kembali saling menyerang setelah Washington melancarkan serangan terhadap wilayah Iran dan Teheran membalas dengan menyerang aset serta fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



