
Pantau - Iran dan Oman menyepakati peta rute baru untuk lalu lintas maritim di Selat Hormuz di tengah upaya kedua negara mengatur pelayaran dengan mempertimbangkan kepentingan bersama, kekhawatiran keamanan, dan kebutuhan pelayaran internasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers mingguan di Teheran pada Senin, 17 Agustus 2026.
Kesepakatan itu menjadi bagian dari perundingan Iran dan Oman mengenai penetapan rute yang aman bagi pelayaran melalui Selat Hormuz.
Kesepakatan Disusun dalam Satu Paket
Menurut Baghaei, Iran dan Oman seharusnya menyelesaikan kesepakatan tersebut dalam bentuk sebuah paket yang mencakup peta rute baru untuk lalu lintas maritim serta pernyataan bersama kedua negara.
Namun, penyelesaian paket kesepakatan memerlukan waktu lebih lama karena kompleksitas persoalan yang dibahas dalam perundingan.
Baghaei juga mengaitkan berlarut-larutnya proses tersebut dengan “jumlah pihak” yang berupaya memengaruhi pembahasan.
Ia turut menyebut adanya “upaya pihak-pihak tertentu yang berniat buruk” sebagai faktor lain yang memengaruhi proses tersebut.
Meski menghadapi berbagai kendala, Teheran dan Muscat tetap melanjutkan perundingan secara serius dan terus bertukar pandangan mengenai teks yang akan dimasukkan ke dalam pernyataan bersama.
Iran dan Oman berupaya mengembangkan mekanisme yang dapat melindungi kepentingan kedua negara sekaligus mengatasi kekhawatiran masing-masing pihak.
Mekanisme tersebut juga diharapkan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Perkembangan mengenai rute baru ini berlangsung setelah Teheran memperketat kendalinya terhadap Selat Hormuz menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Perundingan Iran-AS Tak Pernah Dimulai
Dalam kesempatan yang sama, Baghaei membahas nota kesepahaman atau MoU antara Iran dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 18 Juni 2026.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar perundingan mengenai program nuklir Teheran dan pencabutan sanksi dalam jangka waktu 60 hari yang berakhir pada Senin, 17 Agustus 2026.
Namun, Baghaei mengatakan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat tersebut tidak pernah dimulai.
Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan dan luas” oleh Amerika Serikat terhadap kesepakatan.
Kesepakatan peta rute baru Iran dan Oman diarahkan untuk mengatur pelayaran di Selat Hormuz dengan mempertimbangkan kepentingan kedua negara, kekhawatiran keamanan, serta kebutuhan pelayaran internasional.
- Penulis :
- Arian Mesa



