
Pantau - Pentagon tengah mengkaji ulang keberadaan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah setelah sejumlah pangkalan utama AS di kawasan Teluk mengalami serangan Iran selama berbulan-bulan.
Kajian tersebut membuka kemungkinan perubahan postur militer Washington di kawasan, termasuk pengurangan jumlah pasukan dan keputusan untuk tidak membangun kembali sejumlah pangkalan dalam bentuk seperti sebelumnya.
Menurut laporan The Washington Post pada Selasa, kerusakan sejumlah fasilitas militer akibat serangan Iran menjadi salah satu faktor yang membuka peluang bagi AS untuk meninjau kembali keberadaan militernya di kawasan.
Pentagon Pertimbangkan Postur Baru
Kajian mengenai keberadaan militer AS dipimpin oleh kantor kebijakan Pentagon dengan melibatkan Kepala Staf Gabungan dan Komando Pusat AS atau CENTCOM.
Seorang pejabat senior Pentagon mengatakan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth belum memerintahkan kajian resmi terkait persoalan tersebut.
Pejabat itu menyebut langkah yang sedang berlangsung sebagai "perencanaan yang bijaksana" untuk membantu menentukan keputusan mengenai pembangunan kembali pangkalan yang mengalami kerusakan.
"Keputusan harus dibuat terkait beberapa hal ini," kata pejabat tersebut.
CENTCOM biasanya menempatkan sekitar 40.000 personel di hampir 20 lokasi yang tersebar dari Yordania hingga Oman.
AS Kerahkan Kekuatan Tambahan
Sejak awal 2026, Washington telah mengerahkan kapal perang, pesawat tempur, serta sistem pertahanan udara tambahan ke Timur Tengah.
AS juga dilaporkan telah melancarkan lebih dari 13.000 serangan terhadap Iran sejak awal tahun.
Pangkalan permanen terbesar militer AS di kawasan tersebut terkonsentrasi di negara-negara Teluk.
Fasilitas itu antara lain mencakup markas Armada Kelima AS di Bahrain serta fasilitas utama Angkatan Darat dan Angkatan Udara AS di negara seperti Kuwait.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf



