
Pantau - Iran menggandakan produksi senjata dan peralatan pertahanannya dalam kurun waktu satu tahun di tengah berlanjutnya ketegangan dan aksi saling serang dengan Amerika Serikat (AS).
Wakil Menteri Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik mengatakan peningkatan produksi berlangsung dalam periode Juni tahun lalu hingga Juni tahun ini.
"Dalam kurun waktu satu tahun sejak dimulainya Perang Dua Belas Hari, yakni dari Juni tahun lalu hingga Juni tahun ini, produksi senjata dan peralatan pertahanan meningkat dua kali lipat," kata Talaei-Nik sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim.
Peningkatan produksi pertahanan tersebut berlangsung ketika hubungan Teheran dan Washington kembali memanas setelah sempat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Gencatan Senjata Iran-AS Berakhir
Teheran dan Washington menandatangani memorandum untuk mengakhiri konflik pada malam sebelum 18 Juni setelah pertempuran yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, Presiden AS Donald Trump pada 8 Juli mengumumkan bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku.
Pasukan AS kemudian melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran setelah berakhirnya gencatan senjata.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan serangan tersebut merupakan balasan terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Pasukan Iran selanjutnya membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan AS di kawasan Timur Tengah.
Iran pada 12 Juli mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga berakhirnya campur tangan AS di kawasan tersebut setelah aksi saling serang kembali terjadi.
Sehari kemudian, Trump mengatakan AS akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan Berlanjut ke Sektor Ekonomi
Trump pada Kamis mengatakan Teheran telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.
AS kemudian meluncurkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Iran di tengah ketegangan kedua negara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut langkah tersebut sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari krisis yang menurutnya sedang dihadapi AS.
Araghchi juga menyatakan operasi ekonomi tersebut pada akhirnya akan berujung pada kekalahan yang lebih besar bagi Washington.
- Penulis :
- Gerry Eka



