
Pantau - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan nota kesepahaman perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat sejalan dengan kepentingan Teheran serta dinilai bermanfaat bagi stabilitas Asia Barat dan dunia.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah upacara di Teheran, Sabtu (29/8/2026), sebagaimana dimuat melalui situs web kantornya.
Menurut Pezeshkian, pelaksanaan MoU tersebut dapat mendorong negara-negara di kawasan menuju stabilitas dan pembangunan serta membatasi potensi kekacauan dan agresi yang ia kaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pezeshkian Serukan Persatuan Negara Muslim
Pezeshkian menekankan perlunya memperkuat persatuan dan solidaritas di antara negara-negara Muslim untuk menggagalkan apa yang disebutnya sebagai "rencana jahat musuh".
Ia juga menegaskan Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, tetapi akan memberikan perlawanan apabila menghadapi agresi.
"Kami tidak menginginkan perang, tetapi akan melawan setiap agresor dengan tegas, dan tidak ada kekuatan yang dapat memaksa sebuah bangsa yang teguh berdiri dengan segenap kekuatan dan tekadnya, untuk menyerah", kata Pezeshkian.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi secara terpisah pada Sabtu memperingatkan adanya upaya "besar" untuk memanipulasi pasar energi global demi keuntungan pribadi dan memperpanjang perang Amerika Serikat melawan Iran.
Pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan pasukan keamanan telah memberikan pukulan "telak" terhadap kelompok yang mereka sebut berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel di Provinsi Sistan dan Baluchestan.
Dalam operasi tersebut, menurut Korps Garda Revolusi Islam Iran, satu anggota kelompok itu tewas dan enam orang lainnya ditangkap.
Iran dan AS Teken MoU pada 18 Juni
Ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari 2026.
Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset Amerika Serikat di kawasan, sekaligus memperketat kendali atas Selat Hormuz.
Iran dan Amerika Serikat selanjutnya menandatangani MoU pada 18 Juni 2026 untuk mengakhiri perang di seluruh front di kawasan.
Berdasarkan MoU tersebut, kedua negara dijadwalkan melakukan perundingan dalam waktu 60 hari hingga 17 Agustus 2026 untuk mencapai kesepakatan akhir.
Nasib perundingan tersebut masih belum jelas setelah kembali terjadi eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat pada bulan lalu.
- Penulis :
- Gerry Eka




