
Pantau - Anggota Majelis Nasional Venezuela Juan Carlos Valdez menilai kesepakatan energi selama 25 tahun dengan Amerika Serikat tidak setara dan memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih kecil bagi Caracas.
Valdez menyampaikan penilaian tersebut setelah Amerika Serikat memperoleh akses untuk mengembangkan 17 ladang minyak Venezuela yang memiliki cadangan sekitar 65 miliar barel.
“Ini bukan kesepakatan antara pihak yang setara ... kesepakatan ini dibuat ketika Venezuela telah menjadi sasaran agresi dan berada dalam pengepungan, sementara tidak satu pun sanksi terhadap kami dicabut,” kata Valdez kepada RIA Novosti.
Valdez Soroti Potensi Pendapatan Minyak
Valdez mengatakan pendapatan minyak Venezuela pada 2000 mencapai 18 miliar dolar AS atau sekitar Rp317,4 triliun per tahun.
“Jika kami menjalankan kontrak ini selama 25 tahun dengan harga 65 dolar AS (sekitar Rp1,2 juta) per barel dan produksi 1,5 juta barel per hari, Venezuela akan menerima rata-rata 8 miliar dolar AS per tahun,” katanya.
Ia membandingkan proyeksi tersebut dengan pendapatan Venezuela dari penjualan minyak pada 2007 yang mencapai sekitar 62 miliar dolar AS.
Menurut Valdez, pendapatan pada 2007 sekitar delapan kali lipat dari jumlah yang berpotensi diterima Venezuela apabila sumber daya dikembangkan perusahaan asing berdasarkan kesepakatan baru.
“AS pada akhirnya akan mencampuri Venezuela dengan satu atau lain cara ... Mereka telah kehilangan hegemoni perdagangan kepada China dan hegemoni militer kepada Rusia. Mereka juga hampir kehilangan hegemoni energi,” kata Valdez.
Kesepakatan Beri AS Akses ke 17 Ladang Minyak
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan lalu mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela yang memberikan pihak AS akses untuk mengembangkan 17 ladang minyak.
Trump berharap kesepakatan energi tersebut antara lain dapat membantu menurunkan harga bensin di Amerika Serikat.
Valdez juga mengaitkan posisi Venezuela dengan kegagalan negara itu bergabung dengan BRICS setelah Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menolak keanggotaan Caracas.
“Seandainya Lula [da Silva, Presiden Brasil] tidak melakukan bantuan kepada mereka dengan menghalangi Venezuela masuk BRICS, blok yang kini menguasai 45 persen cadangan minyak dunia,” katanya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




