
Pantau - Pakar energi Turki Ali Arif Akturk menilai jalur pengiriman minyak melalui Suriah tidak mampu menggantikan peran strategis Selat Hormuz karena membutuhkan biaya besar, menghadapi persoalan keamanan, serta belum memiliki jaminan pendanaan.
Mantan Kepala Pengadaan BOTA, perusahaan energi negara Turki, itu menyebut pembangunan maupun pemulihan jaringan pipa yang melintasi Suriah menghadapi berbagai kendala teknis dan ekonomi.
"Pembicaraan bahwa pipa darat dapat menggantikan Selat Hormuz mengabaikan realitas teknis. Pembangunan kembali dan perawatan pipa Kirkuk-Baniyas diperkirakan menelan biaya hingga 15 miliar dolar AS (sekitar Rp245 triliun), lebih mahal daripada membangun jalur baru dari awal," ujar Akturk dalam wawancara khusus dengan RIA Novosti.
Menurut Akturk, pembangunan jalur pipa baru juga membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima tahun, sementara dinamika konflik di kawasan dapat berubah jauh lebih cepat.
Ia memperkirakan konflik di Selat Hormuz akan berakhir dalam waktu kurang dari lima tahun karena konflik berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi global yang lebih besar.
Keamanan Suriah Dinilai Jadi Hambatan
Akturk menilai situasi keamanan di Suriah belum cukup kondusif untuk menopang investasi infrastruktur energi strategis bernilai miliaran dolar AS.
"Proyek lintas negara semacam ini membutuhkan komitmen internasional dan jaminan dari negara penerima," tegas Akturk.
Menurut dia, kondisi pemerintahan Suriah saat ini belum memberikan jaminan yang memadai bagi proyek tersebut, sementara lembaga keuangan internasional juga dinilai akan mempertimbangkan besarnya risiko keamanan.
Akturk juga memperkirakan biaya pengiriman minyak melalui Suriah dapat mencapai sedikitnya dua kali lipat dibandingkan menggunakan jalur pipa Kirkuk-Ceyhan.
Jalur melalui Suriah juga berpotensi menjadi pesaing langsung bagi Kirkuk-Ceyhan sehingga Akturk menilai Pemerintah Turki tidak akan memberikan dukungan terhadap proyek tersebut.
Wacana Alternatif Hormuz Mengemuka
Wacana menjadikan Suriah sebagai jalur alternatif pengiriman minyak muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungan terhadap rute darat tersebut sebagai alternatif Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya juga mengeklaim Selat Hormuz dapat kehilangan peran vitalnya sebagai jalur perdagangan dunia dalam dua tahun mendatang.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur strategis perdagangan energi dunia sehingga upaya mencari rute alternatif mendapat perhatian di tengah konflik dan ketegangan kawasan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




