
Pantau - Sekitar 50 anggota Staf Gabungan militer Amerika Serikat menjalani tes poligraf atau pemeriksaan pendeteksi kebohongan terkait dugaan kebocoran informasi mengenai stok dan kekurangan amunisi AS di tengah konflik dengan Iran.
Tes tersebut dilakukan pada Agustus 2026 terhadap sejumlah perwira militer dan pegawai sipil Departemen Pertahanan AS atau Pentagon, menurut laporan The New York Times (NYT), Jumat (4/9/2026).
Para staf ditanyai mengenai kemungkinan keterlibatan mereka dalam membocorkan informasi terkait persediaan amunisi kepada media.
Pentagon Selidiki Kebocoran Informasi Rahasia
Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menolak memberikan komentar mengenai persoalan internal kepegawaian maupun penyelidikan yang masih berlangsung.
"Namun, kami menganggap semua kebocoran informasi rahasia terkait keamanan nasional sebagai hal yang sangat serius dan kami melakukan penyelidikan sesuai prosedur," kata Parnell.
Pemeriksaan tersebut berlangsung setelah muncul laporan media mengenai kondisi persediaan sejumlah jenis amunisi Amerika Serikat selama konflik dengan Iran.
Laporan yang diterbitkan pada Juni menyebut Amerika Serikat telah menggunakan hampir seluruh persediaan rudal jelajah silumannya selama konflik tersebut.
Persediaan Sejumlah Rudal Dilaporkan Menipis
Amerika Serikat juga dilaporkan menembakkan rudal Tomahawk dalam jumlah yang setara dengan pengadaan selama satu dekade pada masa damai.
Laporan NYT turut menyebut penggunaan rudal Patriot telah mencapai jumlah yang setara dengan kapasitas produksi nasional Amerika Serikat selama dua tahun.
Sebelumnya, laporan analitis Center for Strategic and International Studies pada April menyebut Amerika Serikat berisiko mengalami kekurangan kritis rudal berpemandu presisi apabila menghadapi konflik berskala besar pada masa mendatang.
Risiko tersebut dikaitkan dengan persediaan senjata yang semakin menipis di tengah tingginya kebutuhan amunisi.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




