
Pantau - Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) memverifikasi 40 warga sipil menjadi korban konflik di Yaman sejak 1 September 2026 dengan delapan orang tewas dan 32 lainnya terluka.
“Jumlah korban sipil terus meningkat. Antara 1 September hingga hari ini, rekan-rekan kami di Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah memverifikasi 40 korban sipil, delapan orang tewas dan 32 lainnya terluka,” kata Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq dalam taklimat pers, Senin (14/9/2026).
Haq mengatakan perempuan dan anak-anak mencakup sekitar separuh korban tewas dan lebih dari separuh korban luka dalam konflik tersebut.
PBB Serukan Perlindungan Warga Sipil
PBB menyerukan seluruh pihak yang terlibat konflik di Yaman untuk melindungi warga sipil dan mematuhi hukum humaniter internasional.
“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk melindungi warga sipil, menghormati hukum humaniter internasional, serta memfasilitasi akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan agar bantuan yang sangat dibutuhkan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” kata Haq.
PBB juga meminta akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Pertempuran di Yaman Meningkat
Sejak pertengahan Juli 2026, gerakan Ansar Allah atau Houthi terlibat pertempuran melawan pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional di berbagai wilayah negara tersebut.
Intensitas pertempuran meningkat dalam beberapa pekan terakhir di tengah serangkaian serangan Houthi yang membuat kelompok tersebut menguasai pesisir Laut Merah Yaman.
Pejabat senior Houthi Khuzam al-Assad pada Sabtu (12/9/2026) mengatakan kelompoknya telah menguasai seluruh kota di dekat Selat Bab al-Mandab di pesisir barat Yaman.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




