
Pantau - Kementerian Luar Negeri China menyatakan kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) pada 23-25 September 2026 dipersiapkan untuk memperkuat hubungan konstruktif kedua negara melalui dialog dan kerja sama.
Presiden Xi dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump untuk membahas hubungan bilateral serta sejumlah isu terkait perdamaian dan pembangunan dunia.
"China akan bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memperkaya dimensi hubungan konstruktif China-AS yang berlandaskan stabilitas strategis," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (21/9/2026).
"Atas undangan Presiden Donald Trump, Presiden Xi Jinping akan segera melakukan kunjungan kenegaraan ke AS. Selama kunjungannya, Presiden Xi akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam dengan Presiden Trump mengenai isu-isu utama yang menyangkut hubungan bilateral serta perdamaian dan pembangunan dunia," ujar Guo Jiakun menambahkan.
China-AS Bahas Hubungan Ekonomi
Menurut Guo, diplomasi tingkat kepala negara memiliki peran strategis dalam hubungan China-AS.
"Pertukaran kunjungan oleh kedua presiden dalam kurun waktu setengah tahun ini akan menjadi tonggak sejarah yang sangat penting. China-AS dapat memperkuat dialog dan kerja sama dan mengelola perbedaan secara tepat demi memberikan manfaat lebih besar bagi rakyat kedua negara dan berkontribusi lebih lanjut terhadap perdamaian, stabilitas maupun dan kemakmuran dunia," ujar Guo Jiakun pula.
Guo tidak memberikan jawaban tegas mengenai kemungkinan China memulihkan distribusi logam tanah jarang atau rare earth.
"China berkomitmen untuk menjaga keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan global untuk mineral strategis. China dan AS harus bersama-sama melaksanakan kesepahaman penting yang telah dicapai oleh kedua presiden serta mempertahankan momentum pertumbuhan yang stabil dalam hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS," kata Guo.
Guo juga menegaskan kebijakan pembatasan ekspor sejumlah barang dengan kegunaan ganda atau dual-use kepada pengguna militer Jepang.
"China melarang ekspor semua barang dengan kegunaan ganda (dual-use) kepada pengguna militer Jepang maupun untuk keperluan militer Jepang, serta ekspor apa pun yang dapat membantu meningkatkan kemampuan militer Jepang demi mencegah remiliterisasi Jepang dan upaya negara tersebut untuk memiliki senjata nuklir," ujar Guo Jiakun.
"Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memainkan peran konstruktif demi tujuan tersebut," kata dia lagi.
AS-China Bahas Pengembangan AI
Menjelang pertemuan Xi dan Trump, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York, Minggu (20/9/2026).
Bessent didampingi Wakil Dagang AS (USTR) Jamieson Greer dalam perundingan tersebut.
Menurut keterangan yang disampaikan Bessent, AS dan China sepakat membentuk mekanisme untuk membahas isu terkait pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
AS disebut ingin membahas pengelolaan risiko pengembangan AI, termasuk persoalan agen AI yang tidak terkendali serta ancaman siber dari aktor non-negara.
Pertemuan tingkat pejabat tersebut berlangsung menjelang kunjungan Xi ke AS yang menurut pemerintah China akan digunakan untuk membahas hubungan bilateral dan sejumlah persoalan internasional.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




