
Pantau - Sejumlah politisi di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) dilaporkan tengah mempertimbangkan teknologi rekayasa iklim berskala besar untuk mengurangi intensitas sinar matahari sebagai salah satu opsi menghadapi pemanasan global.
Teknologi yang menjadi pembahasan adalah solar geoengineering atau pengelolaan radiasi surya yang ditujukan untuk mengurangi sebagian radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi.
Wacana tersebut dilaporkan Politico pada Rabu (23/9/2026) dengan mengutip dua mantan pejabat pemerintah.
Aktivis Lingkungan Soroti Risiko
Sejumlah aktivis lingkungan menentang penggunaan teknologi tersebut karena dinilai memiliki risiko terhadap lapisan ozon yang melindungi bumi.
Teknologi rekayasa iklim tersebut juga dikhawatirkan dapat mengubah pola cuaca alami di berbagai wilayah.
Laporan itu turut menggarisbawahi bahwa intervensi melalui solar geoengineering tidak mengatasi penyebab utama pemanasan global yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil.
Minyak bumi, gas alam, dan batu bara menjadi beberapa jenis bahan bakar fosil yang penggunaannya berkaitan dengan emisi penyebab pemanasan global.
Investasi Teknologi Solar Geoengineering Meningkat
Di tengah kekhawatiran mengenai dampaknya, seorang pakar menilai kemungkinan mengurangi intensitas radiasi matahari secara buatan semakin menjadi wacana yang relevan.
Perkembangan tersebut berlangsung seiring meningkatnya investasi ke sejumlah perusahaan rintisan atau startup yang berfokus pada pengembangan teknologi solar geoengineering.
Pembahasan mengenai teknologi itu menghadirkan perdebatan antara potensinya sebagai intervensi terhadap kenaikan suhu bumi dan risiko lingkungan yang dapat ditimbulkan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




