HOME  ⁄  Geopolitik

Rupiah Melemah ke Rp17.933 per Dolar AS saat Ekspektasi Pengetatan Kebijakan The Fed Meningkat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp17.933 per Dolar AS saat Ekspektasi Pengetatan Kebijakan The Fed Meningkat
Foto: (Sumber :Petugas melayani penukaran uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz.)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (25/9/2026) melemah 17 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.933 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.916 per dolar AS.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai pergerakan rupiah dipengaruhi meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

“Data PMI (Purchasing Managers' Index) AS yang lebih kuat dari perkiraan secara signifikan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan The Fed lebih lanjut, dengan pasar kini memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga hingga 50 bps (basis points) sepanjang sisa 2026,” ucap Josua kepada wartawan di Jakarta, Jumat.

Data PMI AS Memperkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Data Flash PMI AS pada September menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh dengan Composite PMI meningkat menjadi 58,4 dari 56,0 pada Agustus 2026.

Angka tersebut tercatat sebagai level tertinggi sejak Juli 2021.

Pasar kemudian meningkatkan ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan The Fed dengan memperhitungkan probabilitas hampir 64 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points pada Oktober 2026.

Pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat The Fed juga dinilai turut memperkuat ekspektasi tersebut.

Kenaikan Harga Minyak Menambah Tekanan Rupiah

Josua mengatakan kenaikan harga minyak lebih dari 1 persen turut menambah tekanan terhadap rupiah di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko geopolitik.

“Kenaikan harga minyak di tengah berlanjutnya ketegangan AS–Iran semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi. Upaya diplomatik di sela-sela Sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) masih menunjukkan kemajuan yang terbatas dalam menyelesaikan konflik tersebut, sementara harga diesel AS mencapai rekor tertinggi baru, yang semakin memperkuat tekanan kenaikan inflasi terkait energi,” ujar dia.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026