
Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim negaranya telah memfasilitasi pengiriman lebih dari 20 juta barel minyak melalui Selat Hormuz selama akhir pekan di tengah konflik AS-Iran yang mengganggu salah satu jalur perdagangan energi strategis dunia.
Axios pada Minggu, 27 September 2026, melaporkan seorang pejabat pertahanan AS mengatakan sekitar 22 juta barel minyak keluar melalui selat tersebut pada Jumat malam.
"Lebih dari 20 juta barel," kata Trump mengenai volume minyak yang menurutnya berhasil melewati Selat Hormuz.
Trump mengeklaim jumlah tersebut merupakan volume minyak terbesar yang berhasil melewati Selat Hormuz dalam satu akhir pekan sejak konflik AS dan Iran dimulai.
Konflik bermula setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026 yang kemudian memicu serangan balasan.
Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan pada pertengahan Juni 2026, tetapi konflik kembali berlanjut dan belum terselesaikan hingga akhir September.
AS Jalankan Operasi Bantu Tanker Melintasi Hormuz
Iran pada 12 Juli 2026 mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga berakhirnya campur tangan AS di kawasan tersebut.
AS kemudian menjalankan operasi untuk membantu kapal-kapal tanker melintasi Selat Hormuz dengan memanfaatkan koridor pelayaran di bagian selatan selat.
Pejabat AS pada Agustus menyebut operasi tersebut mampu membawa jutaan barel minyak setiap hari menuju pasar global.
Trump juga menyatakan AS akan menjadi "penjaga" di Selat Hormuz dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan serta perairan Iran.
Eskalasi konflik menyebabkan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami gangguan besar yang berdampak terhadap pasokan minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair.
Reuters pada 22 September 2026 melaporkan harga minyak masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap pasokan global dan perkembangan situasi di Selat Hormuz.
Menjelang akhir September, arus minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan mulai meningkat dengan sejumlah kapal tanker melintasi jalur tersebut di bawah perlindungan AS, meski volume perdagangan masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik.
Klaim Trump Muncul di Tengah Upaya Diplomatik AS-Iran
Klaim Trump mengenai pengiriman lebih dari 20 juta barel minyak muncul ketika Washington dan Teheran menghadapi upaya diplomatik terbaru untuk meredakan konflik.
Iran dilaporkan mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dengan sejumlah persyaratan, termasuk pencabutan blokade AS serta sanksi terhadap penjualan minyak.
Trump menyatakan menolak proposal tersebut, sementara mediator regional dilaporkan tetap melanjutkan upaya perundingan.
Pada awal September, Trump juga mengusulkan agar Selat Hormuz diganti menggunakan namanya dan kembali mengeklaim AS telah menguasai jalur perairan tersebut.
Gedung Putih sebelumnya juga mengunggah peta di media sosial yang menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump".
- Penulis :
- Shila Glorya




