
Pantau - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lebih dari 180.000 orang di Yaman mengungsi akibat eskalasi konflik dalam beberapa bulan terakhir yang turut meningkatkan tekanan terhadap sistem kesehatan negara tersebut.
Direktur Kedaruratan Wilayah Mediterania Timur WHO Dr. Annette Heinzelmann menyampaikan data tersebut di Jenewa, Selasa (29/9/2026).
"Ini informasi yang kami terima, 180.000 orang dari 10 wilayah mengungsi," kata Heinzelmann.
Menurut Heinzelmann, meningkatnya jumlah pengungsi turut memperburuk kondisi sistem kesehatan di Yaman.
Ribuan Korban Tercatat sejak Agustus
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan di Aden yang dikutip WHO, sejak 6 Agustus tercatat 4.481 korban dengan lebih dari 830 orang meninggal dunia.
Dua rumah sakit di Marib dan Ras Al-Arah dilaporkan menghentikan sementara layanan perawatan neonatal dan obstetri darurat karena staf serta kapasitas operasional dialihkan untuk menangani korban luka yang terus berdatangan.
Sementara itu, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Senin menyebut jumlah pengungsi akibat konflik yang berlangsung sejak Juni telah mencapai 145.000 orang.
Data IOM juga mencatat sekitar 16.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka selama sepekan terakhir.
Konflik Yaman Memanas sejak Pertengahan Juli
Berdasarkan materi sumber, situasi di Yaman mengalami eskalasi pada pertengahan Juli setelah pasukan pro-pemerintah menyerang Bandar Udara Sanaa ketika sebuah pesawat dari Iran yang membawa delegasi pemimpin Houthi sedang mendarat.
Kelompok Houthi menyalahkan Arab Saudi atas serangan tersebut dan menyatakan perang terhadap Riyadh serta menyebut akan terus melawan hingga blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai dicabut.
Houthi juga dilaporkan memperoleh kemajuan di sejumlah wilayah barat dan barat daya Yaman, termasuk menguasai kawasan pesisir Laut Merah dan permukiman di sekitar Selat Bab al-Mandab.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




