
Pantau - Bahrain telah menyatakan komitmen untuk bergabung dalam satuan tugas multinasional pimpinan Amerika Serikat (AS) yang menangani drone serang di kawasan Timur Tengah.
Komitmen Bahrain tersebut disampaikan dalam pertemuan ke-21 Komisi Konsultatif Militer AS-Bahrain, menurut keterangan Departemen Perang AS pada Rabu.
Bahrain Perkuat Kerja Sama Pertahanan dengan AS
Pertemuan tersebut dipimpin bersama oleh Wakil Asisten Menteri Perang AS untuk Timur Dekat dan Asia Tengah Michael P. DiMino dan Menteri Urusan Pertahanan Bahrain Letnan Jenderal Abdullah Al-Noaimi.
Pertemuan di Manama membahas tantangan keamanan regional serta peluang memperkuat integrasi antara pasukan Bahrain dan AS.
"Di Manama ... delegasi menilai tantangan keamanan regional, dan membahas peluang bagi Bahrain untuk terus berintegrasi dengan pasukan AS, serta berinvestasi dalam kemampuan pertahanan antipesawat, termasuk Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS)," kata Pentagon dalam keterangannya.
Dalam pertemuan itu, Bahrain juga berkomitmen untuk berpartisipasi dalam Task Force Falcon Strike.
Task Force Falcon Strike Gabungkan Drone Kamikaze
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pembentukan Task Force Falcon Strike pada 13 Agustus 2026 untuk memperkuat keamanan di Timur Tengah.
Satgas tersebut dirancang untuk menggabungkan drone kamikaze yang beroperasi di udara, permukaan, dan bawah air.
Staf Task Force Falcon Strike akan dipimpin oleh personel Komando Operasi Khusus AS yang berbasis di Florida.
CENTCOM juga telah memulai konsultasi resmi dan mengundang negara-negara sekutu di kawasan untuk berpartisipasi dalam satgas tersebut.
Pembentukan satgas bertujuan menciptakan sistem pencegahan terpadu di wilayah tanggung jawab CENTCOM yang mencakup 21 negara di Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Selatan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




