HOME  ⁄  Geopolitik

Arab Saudi Kecam Serangan Houthi sebagai Eskalasi Militer dan Tegaskan Hak Pertahankan Wilayah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Arab Saudi Kecam Serangan Houthi sebagai Eskalasi Militer dan Tegaskan Hak Pertahankan Wilayah
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Bendera Arab Saudi berkibar di depan konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 6 November 2018. ANTARA/Elif Öztürk - Anadolu Agency /pri.)

Pantau - Arab Saudi mengecam serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah wilayah dan fasilitas di kerajaan tersebut serta menyebut tindakan itu sebagai eskalasi militer di tengah upaya Riyadh mendukung penyelesaian politik konflik Yaman.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam pernyataannya pada Senin (5/10/2026) mengecam tindakan Houthi yang disebut terus menargetkan warga serta fasilitas sipil dan ekonomi.

Saudi mengecam "serangan terbuka dan berulang" terhadap kota suci Mekah dan Madinah.

Riyadh juga mengecam serangan terhadap Ibu Kota Riyadh serta Abha, Khamis Mushait, Jazan, Najran, Taif, dan Yanbu.

Serangan terhadap kapal-kapal Saudi di bagian selatan Laut Merah dan Selat Bab El-Mandeb juga masuk dalam kecaman tersebut.

Saudi dan Houthi Berbeda Klaim soal Mekah-Madinah

Menurut Kementerian Luar Negeri Saudi, Houthi menargetkan Mekah dan Madinah menggunakan rudal dan pesawat nirawak atau drone.

Klaim pemerintah Arab Saudi tersebut dibantah oleh kelompok Houthi.

Serangan Houthi di lokasi lain di Arab Saudi, termasuk fasilitas produksi energi, disebut menyebabkan warga sipil terluka dan menimbulkan kerusakan material.

Pemerintah Saudi menegaskan memiliki "hak yang melekat" untuk mempertahankan wilayah, sumber daya, dan kedaulatannya serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi warga negara dan penduduk.

Menurut Kementerian Luar Negeri Saudi, hak tersebut sesuai dengan hukum internasional.

Saudi menyatakan telah melakukan upaya berkelanjutan untuk mendukung solusi politik yang komprehensif dan berkelanjutan sejak Houthi mengambil alih kekuasaan dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada 2014.

Namun, Saudi menuduh Houthi menolak perdamaian dan memilih "eskalasi militer yang berkelanjutan," yang disebut memperparah penderitaan kemanusiaan dan ekonomi masyarakat Yaman "demi melayani dan melaksanakan agenda pihak asing".

Pasukan Yaman Klaim Kuasai Bab El-Mandeb dan Mokha

Arab Saudi kembali menyatakan "dukungan politik dan militer penuh" kepada Dewan Kepemimpinan Presiden, pemerintah, dan rakyat Yaman untuk mengakhiri penguasaan Houthi serta memulihkan institusi negara.

Riyadh juga meminta masyarakat internasional memberikan dukungan kepada pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi serta menghentikan ancaman kelompok tersebut terhadap Yaman dan kawasan.

Pernyataan itu muncul setelah Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad Al-Alimi mengumumkan dimulainya operasi bersama "Fajar Yaman" atau Dawn on Yemen pada Senin (5/10/2026).

Operasi tersebut disebut bertujuan memulihkan institusi negara, merebut kembali Ibu Kota Sanaa, dan mengakhiri penguasaan Houthi.

Militer Yaman kemudian mengklaim berhasil menguasai Bab El-Mandeb dan kota strategis Mokha serta terus bergerak di sepanjang pesisir barat.

Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada tanggapan langsung dari Houthi mengenai klaim kemajuan pasukan Yaman tersebut.

Houthi sebelumnya mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli 2026 sebagai respons atas apa yang mereka klaim sebagai blokade laut dan udara Saudi terhadap wilayah Yaman yang dikuasai kelompok itu.

Arab Saudi memimpin koalisi pendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi Houthi sejak 2015, sementara kelompok tersebut menguasai Sanaa dan sejumlah provinsi sejak 2014 serta dituduh mendapat dukungan Iran.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026