
Pantau - Pemerintah China menyoroti rencana Inggris menaikkan tarif impor kendaraan listrik asal China serta usulan Jerman dan Prancis untuk memberikan kewenangan baru kepada Uni Eropa (EU) di bidang perdagangan.
“Perlu saya tekankan bahwa hubungan ekonomi dan perdagangan pada dasarnya adalah tentang memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing pihak demi mencapai keuntungan bersama," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu (7/10/2026).
Inggris sedang mempertimbangkan tarif lebih tinggi terhadap impor mobil asal China untuk menyesuaikan kebijakan dengan EU dan memperkuat peluangnya masuk dalam rancangan regulasi baru guna melindungi sektor manufaktur Eropa, termasuk otomotif dan bahan kimia.
EU telah membahas persoalan tarif tersebut dengan Inggris dalam pembicaraan mengenai rancangan regulasi Buatan Eropa (Made in Europe) yang dikenal sebagai Undang-Undang Akselerator Industri (Industrial Accelerator Act).
Inggris saat ini mengenakan bea masuk standar sebesar 10 persen terhadap mobil listrik China, sedangkan EU sejak 2024 memberlakukan bea masuk tambahan hingga 45 persen dan Amerika Serikat menerapkan tarif sebesar 100 persen.
China Sebut Kendaraan Listriknya Kompetitif
“Industri kendaraan listrik (EV) China menawarkan pilihan yang kompetitif bagi konsumen global, termasuk di Inggris, serta berkontribusi pada transisi hijau dan rendah karbon, sekaligus mewakili kapasitas produksi berkualitas tinggi yang memiliki permintaan pasar yang besar," tambah Guo Jiakun.
EU menilai Inggris perlu menerapkan tarif untuk menciptakan persaingan yang setara apabila ingin memenuhi persyaratan masuk dalam skema tersebut.
Sejumlah produsen China juga berekspansi di EU melalui kendaraan hibrida yang belum dikenakan pungutan tambahan.
Perusahaan seperti BYD mulai membangun fasilitas produksi lokal sebagai langkah untuk menghindari bea masuk tersebut.
Penerapan tarif lebih tinggi oleh Inggris berpotensi menjadi perubahan dari kebijakan pemerintah sebelumnya yang menilai hambatan perdagangan seperti di negara-negara anggota EU tidak diperlukan karena Inggris tidak menghadapi masalah defisit perdagangan besar dengan China.
Negara-negara EU mengkhawatirkan peningkatan perdagangan dengan China karena ekspor negara tersebut ke kawasan Eropa tidak hanya berupa kendaraan listrik, tetapi juga komponen yang dinilai berpotensi menggerus industri lokal.
Prancis dan Jerman Usulkan Instrumen Perdagangan Baru
Selain persoalan mobil listrik, Prancis dan Jerman mengusulkan pemberian wewenang kepada Komisi Eropa untuk membentuk instrumen perdagangan baru agar EU dapat bertindak cepat terhadap negara yang praktik ekonominya menyebabkan gangguan serius bagi pasar Eropa.
Praktik yang menjadi perhatian antara lain dumping, subsidi besar-besaran, serta pembatasan yang memengaruhi akses terhadap pasokan penting.
Usulan Prancis dan Jerman tersebut tidak secara resmi menyebut China sebagai target, tetapi sejalan dengan kekhawatiran Eropa terhadap kebijakan industri Beijing.
Berdasarkan usulan itu, Komisi Eropa dapat memulai langkah balasan kecuali mayoritas yang memenuhi syarat (qualified majority) dari pemerintah negara anggota EU memberikan suara untuk menghalanginya.
“Diharapkan Uni Eropa dapat bekerja sama dengan China ke arah yang sama dan menyelesaikan kekhawatiran masing-masing pihak melalui dialog dan konsultasi. Dengan demikian, kedua belah pihak dapat bersama-sama menjaga stabilitas dan kelancaran rantai industri serta rantai pasokan global, sekaligus mendorong perkembangan hubungan ekonomi dan perdagangan China-EU yang sehat dan stabil," kata Guo Jiakun.
Guo menekankan rantai industri dan pasokan China serta EU sangat terintegrasi dan saling bergantung, sementara hubungan ekonomi dan perdagangan kedua pihak bersifat saling menguntungkan.
Para pemimpin EU dijadwalkan membahas hubungan perdagangan dengan China dalam pertemuan puncak di Brussels pada 15-16 Oktober 2026.
Komisaris Perdagangan EU Maroš Šefčovič juga diperkirakan mengadakan pembicaraan dengan para pejabat China pada Rabu (7/10/2026).
- Penulis :
- Aditya Yohan




