
Pantau - Pemerintah Prancis akan menyalurkan 10 juta barel bahan bakar diesel atau solar dari cadangan strategis nasional kepada para penyalur untuk menekan harga bahan bakar minyak (BBM) yang melonjak akibat krisis energi terkait konflik di Timur Tengah.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengumumkan kebijakan tersebut pada Rabu (7/10/2026) sebagai bagian dari kesepakatan negara-negara G7 untuk melepaskan cadangan energi secara terkoordinasi.
Pemerintah Prancis memperkirakan penyaluran solar dari cadangan strategis dapat menurunkan harga bahan bakar di stasiun pengisian sebesar 12 hingga 18 sen euro per liter.
Kebijakan tersebut direncanakan berlangsung selama tiga bulan setelah pemerintah menerbitkan dekret yang menjadi dasar pelaksanaannya.
Prancis Lepas 10 Juta Barel Solar dari Cadangan Strategis
Lecornu mengatakan keputusan penyaluran solar merupakan tindak lanjut dari kesepakatan negara-negara G7 yang dibahas pada Jumat (2/10/2026).
Kesepakatan tersebut dicapai setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumpulkan negara-negara anggota G7 untuk membahas krisis energi.
“Jumat lalu, dia (Presiden Prancis Emmanuel Macron) segera mengumpulkan negara-negara G7, dan kelompok tersebut memutuskan penggunaan cadangan strategis secara terkoordinasi," kata Lecornu dalam pidatonya kepada masyarakat.
Prancis kemudian menetapkan kontribusi sebesar 10 juta barel solar untuk disalurkan melalui jaringan distribusi bahan bakar domestik.
"Sebagai bagian dari keputusan ini, kami akan menyediakan 10 juta barel bahan bakar diesel dari cadangan kami kepada para penyalur di Prancis. Saya akan segera menandatangani dekret yang mengizinkan langkah ini, yang akan berlangsung selama tiga bulan,” kata Lecornu menambahkan.
Lecornu menjelaskan bahwa solar yang akan disalurkan telah dibeli sebelum terjadi lonjakan harga energi.
Bahan bakar tersebut akan diberikan kepada para penyalur dengan harga berdasarkan biaya cadangan negara.
Harga Solar Ditargetkan Turun 12–18 Sen Euro per Liter
Pemerintah Prancis memperkirakan penggunaan cadangan strategis dapat membantu menurunkan harga bahan bakar di tingkat stasiun pengisian.
Menurut Lecornu, penurunan harga yang diharapkan mencapai 12 hingga 18 sen euro per liter.
Kebijakan ini diumumkan setelah harga solar dan bensin di Prancis mencatat rekor tertinggi pada September 2026.
Harga solar pada periode tersebut mencapai 2,41 euro atau sekitar 2,7 dolar Amerika Serikat per liter.
Sementara itu, harga rata-rata bensin tercatat sebesar 2,2 euro per liter.
Kenaikan harga tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah Prancis mengambil langkah pelepasan cadangan bahan bakar.
G7 Sepakat Lepas hingga 100 Juta Barel Cadangan Energi
Presiden Emmanuel Macron sebelumnya mengumumkan pada 2 Oktober 2026 bahwa negara-negara G7 telah mencapai kesepakatan untuk melepaskan cadangan strategis bahan bakar.
Jumlah cadangan yang disepakati untuk dilepas ke pasar mencapai hingga 100 juta barel.
Langkah bersama tersebut diambil untuk merespons tekanan terhadap pasokan dan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Penyaluran 10 juta barel solar oleh Prancis merupakan bagian dari keputusan kolektif tersebut.
Melalui koordinasi G7, negara-negara anggota berupaya menambah ketersediaan bahan bakar di pasar yang terdampak krisis energi.
Konflik Iran Ganggu Pasokan Energi Melalui Selat Hormuz
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure sebelumnya memperingatkan bahwa harga bahan bakar berpotensi tetap tinggi dalam jangka waktu lama.
Menurutnya, lonjakan harga energi berkaitan dengan konflik yang melibatkan Iran sejak Februari 2026.
Eskalasi konflik tersebut menyebabkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz praktis terhenti.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair di dunia.
Gangguan pelayaran di jalur tersebut berdampak terhadap pasokan energi internasional dan meningkatkan tekanan terhadap harga bahan bakar.
Pemerintah Prancis menyiapkan pelepasan cadangan solar selama tiga bulan sebagai salah satu langkah untuk meredam dampak kenaikan harga energi di dalam negeri.
- Penulis :
- Aditya Yohan




