
Pantau - Impor minyak dan gas (migas) Kamboja melonjak hampir 54 persen sepanjang Januari hingga September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring meningkatnya kebutuhan energi domestik dan tekanan harga bahan bakar global akibat konflik di Timur Tengah.
Data perdagangan menunjukkan Kamboja menghabiskan 1,47 miliar dolar AS untuk mengimpor bahan bakar solar selama sembilan bulan pertama 2026.
Nilai impor solar tersebut meningkat 48 persen secara tahunan dibandingkan periode Januari hingga September 2025.
Sementara itu, impor bensin melonjak 76 persen menjadi 1,04 miliar dolar AS, sedangkan pengeluaran untuk gas pembakaran meningkat 23 persen menjadi 314 juta dolar AS.
Aktivitas Industri dan Transportasi Dorong Kebutuhan Energi
Wakil Direktur Pusat Studi Tiongkok-ASEAN di Universitas Teknologi dan Sains Kamboja, Thong Mengdavid, mengatakan kenaikan impor migas dipengaruhi faktor domestik dan internasional.
Menurutnya, pertumbuhan aktivitas ekonomi meningkatkan kebutuhan bahan bakar untuk kegiatan industri, transportasi, dan pembangkitan listrik.
"Meningkatnya produksi industri, perluasan jaringan transportasi dan logistik, serta tingginya permintaan listrik merupakan pendorong utama lonjakan ini," katanya kepada Xinhua.
Mengdavid menjelaskan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi Kamboja turut meningkatkan konsumsi energi nasional.
Namun, meningkatnya kebutuhan tersebut berlangsung ketika harga bahan bakar internasional mengalami tekanan akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Kondisi itu menyebabkan kenaikan nilai impor migas Kamboja tidak hanya dipengaruhi pertumbuhan kebutuhan energi, tetapi juga perubahan harga di pasar global.
Harga Bensin Kamboja Naik 33,7 Persen, Solar Melonjak 46,7 Persen
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Kamboja pada Jumat (9/10/2026), harga eceran bensin reguler mencapai 5.150 riel atau sekitar 1,27 dolar AS per liter.
Harga tersebut meningkat 33,7 persen dibandingkan tingkat harga sebelum konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, harga bahan bakar solar mencapai 5.650 riel atau sekitar 1,39 dolar AS per liter.
Kenaikan harga solar tercatat lebih tinggi, yakni mencapai 46,7 persen dibandingkan periode sebelum konflik.
Lonjakan harga tersebut menunjukkan tekanan biaya energi yang dihadapi Kamboja di tengah meningkatnya kebutuhan bahan bakar dalam negeri.
Kamboja Masih Bergantung Sepenuhnya pada Impor Minyak
Ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri menjadi salah satu tantangan utama Kamboja dalam menghadapi fluktuasi harga minyak dunia.
Negara di kawasan Asia Tenggara tersebut saat ini masih sepenuhnya mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan minyak bumi.
Kamboja sebenarnya memiliki cadangan minyak dan gas di wilayah lepas pantai, tetapi sumber daya tersebut belum dimanfaatkan.
Akibatnya, kebutuhan bahan bakar untuk industri, transportasi, dan aktivitas ekonomi lainnya masih dipenuhi melalui pembelian dari pasar internasional.
Kondisi tersebut membuat Kamboja menghadapi dampak langsung dari perubahan harga energi global, terutama ketika terjadi gangguan pasokan atau konflik di kawasan penghasil minyak.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




